ADAB ANAK KEPADA KEDUA ORANGTUA

Kemajuan teknologi tidak berbanding lurus dengan peningkatan atau kemajuan akhlak seorang anak di masyarakat. Kenyataannya justru sebaliknya, kemajuan teknologi membuat anak lupa diri, malas belajar. Mereka lebih fokus di permainan game, dan sebagainya. Orangtua dipusingkan dengan prilaku anak yang cenderung susah diatur dan menuruti kemauannya sendiri. Sesungguhnya Allah telah menjelaskan di dalam Al-Quran bagaimana seharusnya seorang anak berbuat baik kepada kedua orangtuanya. Sebagaimana firmanNya :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣

  1. Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra : 23)

 

Pada ayat ini berbuat baik kepada kedua orangtua disejajarkan dengan perintah menyembah Allah. Artinya adab anak kepada orangtua juga disejajarkan dengan adab anak kepada Allah. Setiap anak wajib hukumnya berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini sesuai dengan perintah Allah di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Dalam berinteraksi dengan orang tua, anak harus memperhatikan rambu-rambu etika yang disebut adab. Menurut Imam al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444), sekurang-kurangnya ada tujuh adab anak kepada orang tua sebagai berikut:

 آدَابُ الْوَلَدِ مَعَ وَالِدَيْهِ: يَسْمَعُ كَلاَمَهُمَا وَيَقُوْمُ لِقِيَامِهِمَا وَيَمْتَثِلُ لِأَمْرِهِمَاوَيُلَبِّىْ دَعْوَتَهُمَا وَيَخْفَضُ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحَمَةِ وَلاَ يُبْرِمُهُمَا بِالْإِلْحَاحِ وَلاَ يَمُنُّ عَلَيْهِمَا بِالْبِرِّ لَهُمَا وَلاَبِالْقِيَامِ بِأَمْرِهِمَا وَلاَيَنْظُرُ إِلَيْهِمَا شِزْرًا وَلاَ يَعْصِى لَهُمَا أَمْرًا.

Artinya: “Adab anak kepada orang tua : yakni mendengarkan kata-kata orang tua, berdiri ketika mereka berdiri, mematuhi sesuai perintah-perintah mereka, memenuhi panggilan mereka, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintah mereka, tidak memandang mereka dengan rasa curiga, dan tidak membangkang perintah mereka.”

 

Dari kutipan di atas dapat diuraikan ketujuh adab anak kepada orang tua sebagai berikut:

 

Pertama, mendengarkan kata-kata orang tua. Setiap kali orang tua berbicara, anak harus mendengarkan dengan baik terutama ketika orang tua berbicara serius memberikan nasihat. Jika anak bermaksud memotong pembicaraan, sebaiknya memohon ijin terlebih dahulu. Jika memotong saja sebaiknya meminta ijin, maka sangat tidak sopan ketika anak meminta orang tua berhenti berbicara hanya karena tidak menyukai nasihatnya. Justru terkadang berlaku sebaliknya. Banyak anak yang memaki orangtuanya, mengucapkan kata-kata kotor bahkan memukulnya.

 

Kedua, berdiri ketika mereka berdiri. Bila orang tua berdiri, anak sebaiknya juga berdiri. Hal ini tidak hanya merupakan sopan santun, tetapi juga menunjukkan kesiapan anak memberikan bantuan sewaktu-waktu diperlukan, diminta atau tidak. Demikian pula jika orangtua sebaiknya anak juga duduk kecuali sudah tidak tersedia kursi yang bisa diduduki. Posisi duduk anak sebaiknya di tempat yang lebih rendah.

 

Ketiga, mematuhi sesuai printah-perintah mereka. Apapun perintah orang tua anak harus patuh kecuali perintahnya bertentangan dengan syariat Allah SWT. Atau perintah itu melebihi batas kemampuannya untuk dilaksanakan. Jika terjadi seperti ini, seorang anak harus mencoba semampunya. Jika terpaksa harus menolak, maka cara menolaknya tetap harus dengan menjunjung kesopanan dengan memohon maaf dan memberikan alternatif lain yang sesuai dengan kemampuannya. Terkadang anak dipanggil oleh orangtuanya sampai berkali-kali tidak juga memenuhi panggilannya. Mereka asyik dengan permainannya atau ngobrol bersama temannya, atau mereka diam pura-pura tidak mendengar.

 

Keempat, memenuhi panggilan mereka. Anak harus segera menjawab panggilan orang tua begitu mendengar suara orang tua memanggilnya. Dalam hal anak sedang melaksanakan shalat (shalat sunnah), ia boleh membatalkan shalatnya untuk segera memenuhi panggilannya. Jika orang tua memanggil anak untuk pulang dan menemuinya, anak harus segera mengusahakannya begitu ada kesempatan tanpa menunda-nunda.

 

Kelima, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan. Seorang anak sealim dan sepintar apapun tetap harus ta’zim kepada orang tua. Ia harus menyayangi orang tua meskipun dahulu mungkin mereka kurang bisa memenuhi keinginan-keinginannya. Seorang anak harus mengerti keadaan orang tua baik yang menyangkut kekuatan fisik, kesehatan, keuangan, dan sebagainya sehingga tidak menuntut sesuatu yang di luar kemampuannya. Dengan cara seperti ini anak tidak menyusahkan orang tua.

 

Keenam, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintahnya. Seorang anak harus selalu mengerti bahwa dahulu orang tua mengasuh dan membesarkannya tanpa kenal lelah dan selalu menyayangi. Untuk itu seorang anak harus selalu berusaha menyenangkan hati orang tua dengan melaksanakan apa yang menjadi perintahnya.

 

Ketujuh, tidak memandang mereka dengan rasa curiga dan tidak membangkang perintah mereka. Seorang anak harus selalu berprasangka baik kepada orang tua. Jika memang ada sesuatu yang perlu ditanyakan, anak tentu boleh menanyakannya dengan kalimat pertanyaan yang baik dan tidak menunjukkan rasa curiga. Selain itu anak tidak boleh membangkang perintah-perintahnya sebab mematuhi orang tua hukumnya wajib. Ketujuh adab di atas adalah minimal dan harus diketahui dan dilaksanakan oleh anak. Semakin dewasa usia seorang anak, semakin besar tuntutan kepadanya untuk memperhatikan dan mengamalkan ketujuh adab itu. Intinya seorang anak tidak bebas bersikap apa saja kepada orang tua.

 

Penjelasan di atas harus menjadi renungan untuk kita semua. Di satu sisi kita menjadi seorang anak dan di sisi lain kita pun menjadi orangtua. Tatkala kita sekarang menjadi seorang anak, bagaimana adab dan sikap kita kepada kedua orangtua? Tatkala kita saat ini menjadi orangtua, sayangi dan muliakan anak-anak kita. Carilah ridha kedua orangtua bila ingin diridhai Allah. Jangan sampai orangtua kalian murka karena Allah pun akan murka kepada kalian (Hadits). Demikiamlah Imam al-Ghazali memberikan petunjuk tentang tujuh adab anak kepada orang tua untuk diamalkan dengan sebaik-baiknya.

Semoga bermanfaat. Aamiin

Comments