Antara Raja dan Ulama, Dua Peran Sang Sunan

Antara Raja dan Ulama, Dua Peran Sang Sunan

                Peradaban agama Islam masuk ke pulau Jawa tidak terlepas dari peranan para mubaligh-mubaligh yang terkenal dengan sebutan Wali Sanga atau sembilan Wali. Delapan wali menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Satu wali menyebarkan agama Islam di Jawa bagian kulon (Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten) yaitu Syarief Hidayatulloh dikenal dengan SUNAN GUNUNG JATI. Hal yang menarik dari Sunan  Gunung  Djati,  adalah beliau  satu  di  antara Wali  Songo  yang  berhasil  menjadi  pemimpin politik  sekaligus  pemimpin  spiritual,  dengan tetap  berpegang  pada  nilai-nilai  etika keislaman, serta kearifan tradisi lokal.

                Berdasarkan  Carita Purwaka Caruban Nagari, dijelaskan bahwa silsilah Sunan Gunung Jati atau Susuhunan Jati atau Syarief Hidayatulloh atau Syarif Hidayat lahir pada tahun 1448 Masehi, ayahnya bernama Maulana Sultan Mahmud (Syarif Abdullah) yang berasal dari Mesir dan Ibunya bernama Nyai Lara Santang merupakan putri Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Masih berdasarkan Carita Purwaka dan naskah naskah lain dalam tradisi Cirebon, disebutkan bahwa syarif hidayatulloh merupakan pewaris tahta kesultanan di mesir, namun jabatan ini ditolak oleh Syarif Hidayatulloh, karena beliau lebih menyukai pekerjaannya sebagai mubaligh dan memilih tempat di Jawa Barat atau tanah Sunda sebagai tanah leluhur ibunya untuk menyebarkan agama Islam

                Di umur ke-20 tahun, Syarief Hidayatulloh memperdalam agama Islam di kota Mekkah, Madinah dan Baghdad kemudian menuju Pulau jawa dan berguru kepada Sunan Ampel. Dari hasil mesantren, beliau mendapat tugas untuk mengembangkan Islam dengan mengambil tempat di Cirebon. Tugas ini dilaksanakan mulai tahun 1470, ketika beliau berusia 22 tahun. Di sinilah Syarif Hidayatullah mendapatkan gelar Maulana Jati atau Syekh Jati. Adapun gelar Susuhunan diperolehnya setelah sembilan tahun kemudian, ketika beliau diangkat sebagai tumenggung di Cirebon, jabatan yang diberikan pamannya bernama pangeran Cakrabuana (Raden Walangsungsang). Pengangkatan Sunan Gunung jati menjadi tumenggung inilah merupakan tonggak lahirnya kesultanan Cirebon. Dengan demikian, di tanah Jawa terdapat dua kerajaan Islam, yang sebelumnya adalah kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Setelah memangku jabatan penguasa Cirebon, Syarif Hidayatullah segera memutuskan untuk melepaskan diri dari Kerajaan Pakuan Pajajaran.

                Sebagai ulama, dalam menyebarkan agama Islam Sunan Gunung Jati menerapkan dua metode dakwah yang pertama dakwah Struktural, posisi Sunan Gunung Jati sebagai Sultan dan merupakan keturunan dari bangsawan pakuan Pajajaran memunginkan dakwah dapat memobilisasi masyarakat dan pembesar-pembesar wilayah di Tanah Pasundan agar masuk ke agama yang dibawanya yaitu Islam. Hasilnya agama Islam dengan mudah diterima oleh masyarakat beserta pemimpin di wilayah luar Cirebon yang mencakup daerah Sumedanglarang, daerah Ukur Cibaliung di Kabupaten Bandung, Batulayang, daerah Pasir Luhur, hingga Garut. Di daerah tersebut juga diprioritaskan untuk Pembangunan sarana ibadah. Kedua adalah dakwah Kultural, dengan metode ini Sunan Gunung Jati berdakwah langsung ke masyarakat bawah, dengan terjun langsung ke masyarakat tentunya bisa memahami karakter masyarakat yang dikunjunginya sekaligus menjadi pemecah permasalahan di kemasyarakatan. Untuk bisa berdakwah di masyarakat bawah,  media dakwah Sunan Gunung Jati juga melalui seni wayang, seni tari, dan gamelan sekaten.

                Hal yang unik dari dakwah Sunan Gunung Jati adalah berkenaan dengan masalah kesehatan, Sunan Gunung Jati mempunyai peran dakwah yang khas dalam masalah ini. Pengobatan lahir yang harus diatasi dengan obat-obat maddiyah (lahiriah) seperti daun-daun dan akar akaran, serta kesehatan dan pengobatan batin yang semula diatasi dengan pengobatan spiritual, kejiwaan, firasat, jampi-jampi, dan mantra-mantra, oleh Sunan Gunung Jati diganti dengan doa-doa dalam Islam. Dakwah pun dapat menyentuh hal-hal secara psikologis kepada masyarakat bawah dengan  pengamalan pepatah-petitih yang harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat  seperti:

  1. Manah den Syukur ing Allah (hati harus bersyukur kepada Allah)
  2. Den hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua)
  3. Den welas asih ing sapapada (hendaknya menyayangi sesama manusia)

                Peran Sebagai Sultan pun beliau jalani dengan baik, prestasi Sunan Gunung Jati berhasil membawa kesultanan Cirebon mencapai puncak kejayaannya. Wilayah bawahan kerajaan Cirebon hingga tahun 1530 Masehi sudah meliputi separuh dari Propinsi Jawa Barat sekarang dan termasuk Propinsi Banten. Prestasi fenomenalnya yaitu mengubah aturan bulu bekti (pajak) menjadi atur bekti (zakat/infak/sodaqoh), Para kuwu dan gegeden yang berada di bawah perlindungan kerajaan Cirebon, dengan sukarela memberikan hasil panen atau hasil tangkapan ikannya kepada negara setahun sekali tanpa ditentukan jumlahnya. Prestasi lainnya adalah mampu memberdayakan rakyat dengan memberikan keterampilan pembuatan kerajinan untuk meningkat kan ekonomi rakyat. kepemimpinan Sunan Gunung Djati merepresentasikan karakteristik dari seorang raja/sultan, sekaligus juga ulama, Keunikan  ini menjadikannya  seorang  pemimpin  yang  sukses, yang  dibuktikannya  dengan  membangun peradaban  Islam  di tanah Sunda pada  masanya.

Comments