BERSUMPAH ATAS NAMA ''ALLAH''

Sumpah (qasam) adalah suatu penegasan yang menggambarkan tekad yang kuat untuk meninggalkan atau melakukan suatu pekerjaan lalu menghubungkannya dengan sesuatu yang dianggap agung, baik secara hakiki maupun i’tiqadi. Dalam Al-Quran Allah menyatakan sumpah sebanyak 40 kali ;  20 kali sumpah tentang luar angkasa ; bulan, bintang, langit, matahari dan obyek lainnya yang nampak dan 20 kali sumpah tentang bumi beserta isinya. Mengapa Allah bersumpah? Tujuan sumpah Allah adalah untuk menarik perhatian dan mengingatkan manusia kepada keagungan fenomena-fenomena dahsyat yang disumpahkanNya.

 

Sumpah biasanya digunakan untuk mencari kebenaran, baik oleh orang yang mengaku bahwa ia benar, atau orang yang meminta kebenaran dari orang lain. Misalnya ketika seseorang mengatakan sesuatu sedangkan orang yang mendengarnya tidak mempercayainya, maka ia akan menggunakan sumpah untuk memperkuat perkataannya “Demi Allah, saya tidak bohong”, atau ketika ia meminta kebenaran kepada seseorang kemudian ia tidak yakin untuk terhadap orang itu, maka ia akan menggunakan sumpah terhadap orang itu dan memintanya untuk bersumpah. Semua itu tidak lain kecuali untuk mencari kebenaran. Sumpah juga digunakan untuk meyakinkan orang lain bahwa dia benar-benar akan melakukan sesuatu.

Di masyarakat kita temukan banyak orang yang mengumbar sumpah. Dengan sangat gampang ia mengucapkan sumpah sekalipun masalahnya sepele karena sumpah itu bukanlah hal yang sepele. Allah berfirman, “wahfazhuu aymaanakum”, artinya dan jagalah sumpah kalian.

 

Allah Swt bebas bersumpah dengan apapun yang Dia kehendaki dari makhluknya. Sementara manusia tidak boleh bersumpah kecuali dengan nama Allah seperti “demi Allah”, karena bersumpah dengan yang selain-Nya adalah salah satu bentuk tindak kemusyrikan dan bahkan bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Nabi Saw mengingatkan dalam haditsnya, “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka sungguh dia telah berbuat kekufuran atau syirik”. Bersumpah dengan Allah itu tidak hanya sebatas dengan nama Allah saja, kita juga boleh bersumpah dengan sesuatu yang selain “Demi Allah” tetapi tetap kembali kepada Allah, misalnya: “Demi Rabb Ka’bah, Demi yang Membolak-balikkan hati, Demi yang yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ” dan lainnya yang penting semuanya kembali kepada Allah. Karena itu sumpah yang lazim digunakan adalah sumpah atas nama Allah (demi Allah).

 

Orang yang bersumpah menunjukkan konsekwensi dirinya dengan apa yang ia ucapkan dengan sumpah itu. Orang yang bersumpah adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah. Orang yang tidak sesuai sumpahnya termasuk orang yang berkhianat. Tahun 2018 mendatang merupakan tahun politik. Banyak pejabat diangkat dengan sumpah atau orang yang ingin jabatan tertentu berkampanye dengan janji-janjinya bahkan sampai bersumpah dengan nama Allah. Seandainya seseorang konsekwensi dengan sumpahnya, insya Allah ia tidak akan korupsi.

 

Tidak dibenarkan seorang muslim bersumpah untuk suatu kebohongan atau sumpah palsu (yaminul ghomuus). Nabi Saw bersabda, “Janganlah kalian bersumpah dengan ayah kalian, ibu kalian, dan apa saja yang disekutukan dengan Allah. Dan janganlah kalian bersumpah dengan nama Allah kecuali jika kalian benar”(Alhadits). Yaminul ghamuus termasuk dosa besar.  Seorang arab badwi datang kepada Nabi Saw dan bertanya: “wahai Rasulullah, apakah dosa besar itu? Dijawab, “sumpah palsu”. Dan ia bertanya lagi, “apakah sumpah palsu itu?”  Beliau bersabda, ”sumpah yang digunakan untuk mengambil harta orang lain padahal ia berbohong”.

 

Orang yang tidak memenuhi sumpahnya, maka ia kena denda sumpah (kaffaratul yamiin). Maksudnya adalah jika seseorang bersumpah untuk melakukan sesuatu namun ia tidak jadi melakukannya, atau jika seseorang bersumpah untuk meninggalkan sesuatu lalu kemudian ia melakukannya maka ia harus membayar denda untuk itu. Denda ini adalah sebagai denda atas tidak terlaksanaanya sumpah itu. Denda ini diberikan agar ia tidak mendapat dosa atas sumpahnya itu. Allah SWT berfirman pada surat Al-Maidah ayat 9, “... Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu”.  Semoga kita mampu menjaga diri, sejauhmana kita boleh bersumpah dan tidak sembarangan bersumpah karena sumpah dapat memberikan konsekwensi dalam kehidupan di dunia terlebih kelak di akhirat. Wallaahu a’lam.

Comments