Dua Macam Taubat

Dua Macam Taubat

Oleh : Deden Burhani Hidayatulloh, S.Pd.I

 

Sudah menjadi sunatullah tiada manusia yang terlepas dari kesalahan dan dosa. Akan tetapi, sebaik-baik dari mereka adalah yang bertaubat. Yakni, bersegera menyadari kesalahan dan dosa yang telah diperbuat kemudian memohon ampunan atasnya dan berusaha menjaga diri untuk tidak mengulanginya di lain kesempatan. Rasulullah bersabda dalam haditsnya, “Setiap anak Adam itu berbuat kesalahan (dosa), namun sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat”. (HR. At-Tirmidzi 2499 dan Ibnu Majah 4251).

Taubat ialah kembali dari keadaan jauh dari Allah menuju kepada kedekatan dengan-Nya. Yaitu, kembalinya seorang hamba kepada Allah setelah sebelumnya ia lalai bahkan bermaksiat kepada-Nya kemudian bersegera mengakui kesalahan dan dosanya serta mengharapkan ampunan Allah atas perbuatan itu. Taubat itu mencakup seluruh perbuatan dosa dan kemaksiatan, baik yang lahir maupun yang bathin.

Taubat menurut Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari, ada dua jenis, yaitu taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah ialah sikap taubat seseorang yang didorong rasa takut terhadap dosa dan maksiat.

Terbayang di benaknya kerugian besar di dunia dan siksa serta malapetaka Allah yang amat pedih di neraka. Dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya membuatnya betul-betul takut kepada Allah SWT. Dalam suasana takut seperti itu, ia menyerahkan diri, bertobat, dan memohon pengampunan kepada Allah. Ia selalu membayangkan api neraka yang akan menyiksa dirinya seandainya Allah tidak memaafkannya.
Siang dan malam ia selalu melakukan ketaatan kepada Allah dengan harapan amal kebajikan bisa mengikis segala dosanya, sebagaimana firman Allah, "Innal hasanaat yudzhibnas sayyi’aat (sesungguhnya amal kebajikan menghapuskan dosa)." (QS Hud [11] :114).

Sedangkan, taubat istijabah merupakan bentuk taubat seorang hamba yang malu terhadap kemurahan, kemuliaan dan keagungan Allah Swt. Taubat dalam tahap ini,seseorang tidak lagi membayangkan Allah sebagai Maha Pembalas terhadap segala dosa dan maksiat sebagaimana dalam tahap taubat inabah. Seseorang yang melakukan Taubat istijabah lebih merasa tersiksa rasa malu terhadap Allah ketimbang panas api nerakanya Allah. Yang membuat seseorang tersiksa ialah betapa pedihnya jika terbebani rasa malu yang amat dalam terhadap Allah. Mestinya, ia bersyukur dan mengabdi kepada Allah dengan berbagai kenikmatan yang diperoleh dari Allah, tetapi malah melakukan dosa dan maksiat. Inilah yang membuatnya tersiksa, kecewa, lalu menyesali dirinya tega melakukan sesuatu yang memalukan di hadapan Allah.

Pertanyaan kepada diri kita, jenis taubat apa yang sudah kita miliki? Apakah kita sudah melakukan penyesalan terhadap dosa dan maksiat yang telah kita lakukan? Apakah kita tergolong yang selalu membayangkan panasnya api neraka setelah melakukan dosa dan maksiat?. Apakah sudah terbetik rasa malu kepada Allah setelah kita melakukan dosa? Apakah telah muncul penyesalan yang mendalam dan bertekad untuk memutuskan segenap dosa-dosa dan maksiat langganan kita karena takut atau malu kepada Allah?. Apakah kita telah mengganti langganan dosa dan maksiat itu dengan amal kebajikan? Atau, kita sama sekali belum melakukan perubahan di dalam diri kita, dosa, dan maksiat masih berjalan terus tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun. Kita sepantasnya mengintip umur kita. Tanda-tanda ketuaan apa yang sudah kita miliki, semisal, uban sudah bercampur di tengah rambut hitam, rasa ngilu di tulang persendian sebagai gejala penuaan, dan pembatasan oleh dokter pribadi, seperti makanan dan pergerakan fisik.

Wahai para pemburu ampunan Allah ta’aala. Marilah kita sempurnakan dan manfaatkan kesempatan emas hidup ini untuk bertaubat dengan memperbanyak istighfar memohon ampunan Allah Swt. Umur kita tidak akan lama. Jika disia-siakan, maka kita akan rugi besar, baik di dunia maupun di akhirat. Pintu taubat selalu terbuka, anugerah Allah ta’aala selalu dicurahkan, dan kebaikan-Nya senantiasa mengalir bagi hamba Nya yang mau bertaubat.

(Majelis Istighotsah Assalaam)

 

Comments