Ibu Dalam Konsepsi Islam

Setiap tanggal 22 Desember diperingati hari ibu. Peringatan hari ibu tidak sekedar seremonial belaka, tetapi memberikan makna yang substansial. Dalam beberapa kamus, kata “ibu”, artinya wanita yang telah melahirkan seseorang, seseorang yang mencintai tanpa syarat, orang yang membangun karakter dan menyembuhkan hati yang luka, orang yang membuat dan menjaga memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman, seorang yang memberikan waktu 24 jam tanpa meminta bayaran.

 

Ada dua kata yang dipakai Al Qur’an untuk menyebutkan ibu: “Umm” dan “Walidah”. Kata “umm”, digunakan untuk menyebutkan sumber yang baik dan suci untuk hal yang besar dan penting. Makkah Al Mukarramah disebut “Ummul Qura” karena kota ini adalah tempat turunnya risalah yang diberikan Allah SWT kepada Islam, merupakan inti ajaran para rasul dan semua risalah. (lihat QS Al-An’am : 92, Ar Ra’d : 39). Al Qur’an membedakan antara kata “umm” dan “walidah”. Allah menyebut “walidah” kepada perempuan yang melahirkan anak, tanpa melihat karakter dan sifatnya yang baik atau yang buruk. Kata “walidah” digunakan hanya karena adanya proses melahirkan, baik bagi manusia maupun makhluk lain. (lihat Al-Baqarah : 233, Al-Isra : 23)

 

Seorang ibu ditempatkan pada posisi sentral dan dimuliakan bahkan kedududukannya lebih tinggi dari seorang ayah. Dalam sebuah hadits, ibu disebut sampai tiga kali kemudian ayah. Rasul saw bersabda, “Seorang datang kepada Rasulullah saw dan berkata : Wahai Rasulullah kepada siapa aku harus berbakti pertama kali? Nabi saw menjawab, “Ibumu”. Kemudian siapa lagi? Ibumu. Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa lagi? Ibumu. Kemudian siapa lagi? Nabi menjawab : ayahmu.

 

Hadits di atas menunjukkan kasih sayang dan kecintaan seorang ibu tiga kali lipat besarnya dibandingkan seorang ayah. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, kesulitan saat menyusui dan merawat anak hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk penghormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, tidak dimiliki seorang ayah (Tafsir Al-Qurthubi).

 

Dalam sebuah hadits Rasul saw bersabda,"Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu”. Ibu  sebagai makhluk yang dikodratkan sebagai perantara lahirnya manusia di bumi ini. Tugas seorang ibu tidak ringan. Allah SWT telah menentukan kodrat wanita yang berat itu. Wanita sebagai ibu adalah pendidik paling utama bagi manusia. Kaum ibu yang ideal tidak sekedar dapat bobot (hamil), namun ibu harus berbobot (berkualitas). Anak-anak mereka tidak cukup dijamin kebutuhan jasmaninya, juga rohaninya.

 

Ibu telah mengandung di dalam perutnya selama sembilan bulan. Ibu bersusah payah ketika melahirkan anaknya dan hampir saja nyawanya melayang. Ibu telah menyusui bayinya dan ia hilangkan rasa kantuk karena menjaga anaknya. Ibu membersihkan kotoran anaknya dengan tangannya, dia utamakan anaknya dari dirinya. Ibu jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagi anaknya. Ibu telah memberikan semua kebaikannya. Apabila anaknya sakit, tampak dirinya kesusahan dan kesedihan serta dia keluarkan harta dalam jumlah besar untuk mengobati anaknya. Seandainya dipilih antara hidup dengan kematiannya maka dia memilih supaya anaknya hidup. Betapa banyak kebaikan ibu tetapi dibalas dengan keburukan anaknya. Ibu selalu mendoakan anaknya baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibu membutuhkan anaknya di saat ia sudah tua renta, kadang anaknya mengabaikannya. Ibu rela memberi makanan agar anaknya kenyang walaupun dia lapar. Anaknya puas minum walau dia kehausan. Tetapi banyak manusia yang berbakti kepada isteri dan anaknya daripada kepada ibunya.

 

Di dalam surat Al-Ahqaaf : 15 dan surat Luqman : 14 bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah lemah......Ayat tersebut di atas terdapat empat pekerjaan berat yang dilakukan seorang ibu dan tidak dilakukan oleh seorang ayah. Namun demikian, jika dilaksanakan dengan senang, sabar, dan mencari ridha Allah maka pekerjaan itu bagian dari jihad seorang ibu dan berpahala luar biasa diberikan di sisi Allah ; 1) Ibu mengandung bayi. Ini hanya diberikan Allah kepada seorang wanita. Semakin lama ibu mengandung semakin bertambah lemah dan kepayahan. Sungguh luar bisa perjuangan seorang ibu mengandung anaknya ; 2) Ibu melahirkan bayi. Ibu berjuang dengan taruhan nyawa saat melahirkan. Proses ini sangat luar biasa sakitnya. Ia melepas nafas, menahan sakit. Betapa beratnya perjuangan seorang ibu. Jika takdir Allah seorang ibu meninggal dunia maka termasuk mati syahid (Hadits) ; 3) Ibu menyusui dan mengasuh bayi. Setelah bayi keluar dari kandungan, ibu menyusuinya setiap saat sampai dua tahun lamanya. Di malam hari, ibu selalu terjaga mengawasi bayinya dan sesekali bayi itu menangis, ibunya terbangun. Maka kondisi ibu yang masih kelelahan saat melahirkan atau kurang tidur harus bangun menyusui anaknya. Sesekali bayi itu menangis, ibu menggendongnya, menghibur, dan mengayun-ayunnya sambil menahan kantuknya. Itu semua dilakukannya dengan ikhlas dan kasih sayang. Demikian pula saat bayi ngompol atau buang kotoran, ibu dengan sabar membersihkannya tanpa merasa jijik dan menyesal ; 4) Ibu mendidik anak. Pendidikan usia dini sangat penting bagi perkembangan anak. Ibu lebih dekat dengan anaknya daripada ayah. Kedekatan ibu lebih mudah memberikan pelajaran kepada anaknya sehingga pendidikan seorang ibu lebih berhasil dibanding ayahnya. Banyak peristiwa yang terjadi, seorang ibu yang berpisah dengan suaminya (meninggal dunia atau bercerai), tetapi ibu tetap tegar, mandiri dan berhasil mengantarkan anaknya dewasa serta meraih kesuksesan. Berbeda dengan seorang ayah yang ditinggal isterinya (meninggal dunia atau bercerai) anak-anaknya tidak terurus pendidikannya.

 

Sungguh sangat besar jasa ibu kepada anaknya. Jasa ibu tidak akan terbalas sekalipun seumur hidupnya dibaktikan untuk ibunya. Namun, sangat ironis sekali apabila seorang anak durhaka kepada ibunya.  Banyak kisah seorang anak yang durhaka kepada ibunya, seperti legenda malin kundang di Sumatera Barat. Dia dikutuk dan berubah menjadi batu. Demikian pula kisah Al-Qomah. Beliau rajin sholat, rajin puasa dan banyak sedekah, namun menjelang meninggalnya sulit sekali mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Setelah dicari penyebabnya ternyata ibu Al-Qomah pernah marah kepadanya, karena ibunya merasa tersinggung tidak dipedulikan oleh Al-Qomah. Ia lebih mendahulukan isterinya daripada ibunya. Lebih kejam lagi, banyak seorang anak yang membunuh ibunya. Seorang anak tidak bisa meraih kesuksesan tanpa doa ibunya. Demikian pula seorang anak tanpa ridha orangtuanya tidak akan mendapat keridhaan Allah dan kemurkaan orangtuanya berakibat pada kemurkaan Allah, sebagaimana hadits, “Ridha Allah tergantung ridha kedua orangtua dan murka Allah tergantung murka kedua orangtua.

 

Kita patut salut dengan ibunda yang solihah, seperti Siti Hajar, Siti Khadijah, Siti Aisyah dan Siti Fatimah. Siti Hajar, sosok ibu yang ulet, tegar, tabah, semangat sekalipun ia hanya dengan anaknya yang masih bayi ditinggalkan suaminya Ibrahim as. Ia pantang menyerah mencari air dari bukit Shofa ke Marwah dan sebaliknya. Akhirnya Allah berikan solusi dengan memancarkan air dari hentakan kaki Ismail as yang dikenal air zamzam.  Siti Khodijah, setelah dinikahi Rasulullah saw membuktikan kualitas dirinya sebagai seorang ibu yang mulia. Bukan dengan membangga-banggakan harta dan keturunannya, tetapi dengan menunjukkan kesetiaan, ketulusan dan kehangatan. Khadijah selalu hadir dalam kebimbangan dan kesusahan suami, utamanya dalam hal-hal yang penting dan mendasar, seperti soal kebenaran wahyu dan tentang risalah serta status dirinya sebagai seorang Nabi. Khadijah selalu mendukung dan mendorong suaminya untuk tetap dalam kebenaran. Bahkan Khadijah merelakan segala yang dimiliki untuk mendukung dakwah Islamnya. Khadijah sangat menghormati suami meski suaminya lebih muda dan bukan dari kalangan bangsawan. Siti Aisyah, isteri Rasulullah saw. Ia bersama Rasulullah dalam suka dan duka. Aisyah seorang sosok ibu yang gigih, tekun, rajin mendampingi Rasulullah dan banyak belajar darinya. Banyak sekali hadits yang sanadnya dari Siti Aisyah. Siti Fatimah, isteri Sayidina Ali, hidup miskin dan tidak pernah mengeluh atau bersusah hati dengan kemiskinannya. Ia memasak sendiri dan mengambil air sendiri. Tubuhnya yang mungil tidak menjadi halangan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari. Sejak kecil Siti Fatimah sudah mendapat banyak didikan dan pengajaran dari Rasulullah. Beliau dibesarkan oleh kedua ayah ibunya dengan penuh kasih sayang. Didikan yang tepat dari kedua bapak ibunya menjadikan beliau tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat, gigih dan tahan banting.

Sungguh, sekiranya muslimah zaman ini meniru sosok akhlak ibu sholihah di atas, insya Allah tidak akan terjadi percekcokan, pertikaian terlebih sampai pada perselingkuhan dan perceraian. Sebab, hanya cinta yang tumbuh di atas landasan iman dan akhlak semata akan memberikan ketentraman dan kebahagiaan dunia akhirat. Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat

Comments