INTI AGAMA DAN KEUTAMAAN MASJID

 

الدين – المساجد

Kasih sayang Allah terhadap hambanya begitu luar biasa. Pembuktikannya melalui “Agama Islam”, keyakinan yang mesti dipeluk umat manusia, dan “Masjid” tempat berkomunikasi dan tempat rahmatNya. Ad-Diin dan al Masaajid adalah dua kata yang sarat makna, dan saling terkait secara kontekstual. Keduanya berkali-kali diungkap dalam Alquran, yaitu 92 kali tiada lain supaya kehidupan manusia tidak hampa, tidak terombang ambing dalam kesesatan. Maka tak mengherankan ketika manusia dilahirkan ke alam dunia, langsung diberi kelengkapan dan fasilitas berupa ASI dan dekapan kehangatan kasih sayang ibunya. Sekaligus kitab suci Alquran untuk dipedomani.

Dua kata ini 92 kali disebut dalam Alquran. Jika diperhatikan bahwa nama Asmaul Husna yang ke 92 yaitu Annafi’u, bagi pemilik diri yang bermanfaat dan berdaya guna, dapat dengan mudah meningkat pada tahap memperoleh cahaya (An-Nuur) sebab manfaat diri dipergunakan. Berkah pengamalan Ad-Diin dan bermuara di Masaajid

Inti agama adalah percaya akan adanya Zat Yang Maha Mutlak (yaitu Allah Swt.). Hanya kepadaNya manusia bergantung (As-Shamad) dan memohon perlindungan.

Manusia menurut kodratnya adalah beragama. Bila tiada beragama berarti menentang kodratnya sendiri. Keinginan manusia mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang  langgeng itu disebabkan ilmu, kekuasaan dan harta kekayaan tidak menjamin kebahagiaan yang abadi,  hal itu didasarkan atas perasaan, pengamatan dan pengalaman hidup manusia.

Akal manusia adalah nisbi (relatif) sebab ditentukan oleh ruang dan waktu. Karena itulah manusia membutuhkan petunjuk tentang hal-hal yang tak dapat dijangkau akal. Di sinilah petunjuk wahyu Tuhan berperan dalam kehidupan, yakni Alquran (agama Islam) sebagai pedoman hidup manusia.

 

Agama Menurut Terminologi

Sansakerta, A=tidak, gama = tak teratur, kacau. Agama sama dengan tidak kacau tetapi teratur. Dalam bahasa latin, agama yaitu “ikatan”. (Belanda =Religie, Inggris  = Religion, Arab = Adat kebiasaan, peraturan, undang-undang, tingkah laku, taat, nasihat, budi pekerti).

Agama  merupakan hubungan manusia  dengan Tuhan Yang Maha Kudus. Hubungan yang menyatakan diri dengan bentuk kultus, ritus dan sikap hidup berdasar doktrin-doktrin tertentu. Karena itulah agama mempunyai ciri-ciri, yaitu: Mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai kitab suci dari Tuhan Yang maha Esa, mempunyai Rasul dari Tuhan Yang Maha Esa, mempunyai hukum tersendiri untuk dipedomani oleh para penganutnya,  berupa perintah, larangan, petunjuk, dan peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang berakal untuk memegangnya semata-mata untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan di kemudian hari.

الدين مايتدين وعند الاصطلاح ماشرعه الله على لسان نبيه من الاحكام. وقيل هو وضع الهي يدعو لذوى العقول السالمة الى قبول ماهو عند الرسول لسعادتهم فى معاشهم ومعادهم.( ابراهيم البيجوري : تحفة المريد –جوهرالتوحيد)

Ad-Diin; Suatu ajaran agama yang yang diundangkan. Menurut istilah, yaitu hukum-hukum agama yang disyariatkan Allah melalui lisan nabiNya. Menurut pendapat lain, yaitu hukum hukum Ketuhanan yang disampaikan kepada manusia yang berakal sehat untuk menerima syariat yang dibawa Rasul, agar manusia memperoleh kebahagiaan di dalam kehidupan dunia dan akhirat kelak (tempat kembalinya).

فمعنى الاسلام شرعا الامتثال والانقياض لما جاء به النبي صلى الله عليه وسلم مما علم من الدين بالضرورة. وقيل الاذعان الباطنية بدليل القران(افمن شرح الله صدره للاسلام فهو على نور من ربه فويل للقسية قلوبهم  من ذكر الله اولئك في ضلال مبين(الزمر :22) .( ابراهيم البيجوري : تحفة المريد –جوهرالتوحيد)

Adapun makna Islam menurut syariat ialah patuh dan taat kepada ajaran yang dibawa Nabi Saw. berupa pengetahuan ilmu agama. Pendapat lainnya, yaitu kepasrahan total dalam batin berdasar firmanNya: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhan-nya (sama dengan orang-orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

Rumah yang pertama kali dibangun di permukaan bumi ini ialah “BaItullah” di Makkah.“Sesungguhnya rumah-rumahKu di bumi ini ialah masjid masjid dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya”. (Hadis Qudsi riwayat Abu Naim dari Said al Khudri ra).

Kata masjid berikut akar katanya, disebutkan 92 kali dalam Alquran, pada nama surat ke 92 yaitu: ”Al-Lail” artinya “malam”. Antara keduanya ada hubungan yang tak dapat dipisahkan. Seperti peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhammad Saw. dimulai dari masjid menuju ke masjid, menuju  Sidrah al Muntaha untuk menerima perintah salat. Menjemput malam Lailatul Qadar dianjurkan dalam masjid saat beritikaf pada sepuluh hari menjelang ahir Ramadan.

Masjid adalah tempat termulia di Bumi. Orang-orang yang mengunjungi dan memakmurkan masjid dengan salat, zikir, ngaji Quran, dan perbuatan taqarrub lainnya kepada Allah, ialah tamu Allah termulia, karena shahibul-baitnya yaitu; Allah Swt.

يقول الله تعالى: ان بيوتي في الارض المساجد وان زواري فيها عمارها (رواه أبونعيم عن سعيد الخدري)

“Sesungguhnya rumah-rumahKu di bumi ialah masjid-masjid dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya”. Hadis Qudsi riwayat Abu Nu’aim dari Said al Khudri.

انما عمار المساجد هم أهل الله (رواه البزار وعبد الرحمن بن حميد عن أنس)

“Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid ialah keluarga (yang dicintai) Allah”.

يقول الله : وعزتي وجلالي اني لاهمّ باهل الارض عذابا فاذا نظرت الى عمار بيوتي والى المتحابين فيّ والى المستغفرين بأسحار صرفت ذلك عنهم. رواه الحافظ البهائي عن أنس مرفوعا.

“Demi keagunganKu dan kemuliaanKu, sesungguhnya Aku ingin merunkan siksaan kepada penduduk bumi. Tapi saat Kulihat penghuninya sedang memakmurkan masjid (rumahKu), saling mengasihi sesama karena Aku, selalu istigfar di waktu sahur, Aku palingkan siksaan itu dari mereka”. HR. al Hafizh al Bahai.

Bahwasanya Nabi Saw. besabda, jika seseorang keluar rumahnya untuk salat, maka beliau Saw. berkata:

أللهم اني أسألك بحق السائلين اليك وبحق ممشاي هذا فاني لم أخرج اشرا ولابطرا ولارياء ولاسمعة, خرجت اتقاء سخطك وابتغاء مرضاتك.أسألك ان تنقذني من النار وان تغفر لي ذنوبي  انه لايغفر الذنوب الا أنت. وكل الله به سبعين ألف ملك يستغفرون له. وأقبل الله عليه بوجهه حتى يقضي صلاته . (رواه أحمد وابن خزيمة وابن ماجه عن أبي سعيد الخدري)

 

Kehormatan Masjid.

Imam Nawawi  dalam kitab Majmuk Juz 2: Hal. 187-196 menyatakan;

  1. Haram memasuki masjid atas orang junub, haid, nifas. Tetapi jika hanya melewatinya untuk satu keperluan, menurut Assyafii dan al Hanbali ialah dihukumi “boleh”.
  2. Jika bermimpi mengeluarkan sperma dalam masjid, wajib segera keluar kecuali bila terkunci atau khawatir dengan keadaan dirinya atau hartanya (boleh bermukim sebab darurat). Tidak boleh bertayamum dengan tanah masjid. Bagi yang punya hadas besar di luar masjid (karena janabah, haid) sementara air berada dalam masjid maka tidak boleh memasukinya dan mandi di sana. Kecuali sekadar meneguk air minum.
  3. Boleh tidur dalam masjid, (tidak dianggap makruh menurut Assyafii, karena hal itu pernah dilakukan Ibnu Umar ra. Ahlussuffah bermukim di masjid Nabi). Menurut Imam Malik tak apa bagi pengembara. Bagi Hanafiah dihukumi makruh tidur dalam masjid kecuali bagi pengembara dan yang berniat i’tikaf. Orang kafir dilarang masuk masjid kecuali darurat pekerjaan. Dan menurut Hanafiyah boleh-boleh saja orang kafir masuk ke dalam masjid. Dan yang dikecualikan oleh Imam syafii yaitu Masjidil Haram, dan batas tanah haram. Tetapi bila kaum muslimin mengizinkannya maka boleh.
  4. Tak mengapa makan minum dan menyediakan hidangan dalam masjid. Makruh tanzih, kata Hanafiyah, memakan makanan yang bau aromanya tidak menyengat. Kata Malikiah boleh makan minum bagi orang pengembara asal tidak mengotorinya.
  5. Makruh makan makanan yang aromanya menyengat seperti; bawang merah, bawang putih. Berdasar hadis Nabi riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar, “Siapa yang memakan (bawang) tanaman ini maka janganlah mendekati masjid kami”.
  6. Makruh meludah di tanah masjid. Berdasar hadis Nabi dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Anas ra., “Meludah di masjid adalah satu kesalahan, kifaratnya ialah dengan menguburkannya”.
  7. Haram memasukkan najis ke dalam masjid. Sementara orang yang terdapat najis di badannya atau terluka, jika khawatir menetes maka haram memasukinya. Dan tidak boleh membangun dengan bahan-bahan material yang najis, hal itu makruh tahrim menurut  Hanfiyah. Dalil keharam tersebut berpijak pada hadir riwayat Muslim dari Anas ra. “Sesungguhnya masjid masjid ini tidak pantas untuk buang kotoran dan buang air kecil, sesungguhnya masjid-masjid itu hanyalah untuk berzikir kepada Allah dan membaca Quran”.
  8. Makruh berselisih mulut di masjid, memperkeras suara, melagu yang menyesatkan, bertransaksi jual beli, sewa-menyewa, berdasarkan hadis riwayat Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad dari  Abi Hurairah ra.
  9. Makruh memasukkan hewan ternak, orang gila, anak-anak belum tamyiz karena dimungkinkan tak bisa menjaga kebersihan masjid. Nabi pernah membawa Umamah binti Zainab ra. bertawaf di atas untanya. Hal ini menunjukkan kebolehannya. Dan dianggap rukhsah (keringanan) bagi kaum perempuan yang berangkat ke masjid  jika terasa aman. Dan makruh bagi kaum perempuan masih remaja.
  10. Makruh menjadikan masjid sebagai tempat pekerjaan (seperti produksi barang).
  11. Disunnahkan berjamaah melaksanakan kajian keilmuan, menuturkan nasihat agama. Sebagaimana keterangan dari hadis Nabi Saw.
  12. Tak mengapa di masjid melantunkan syair-syair pujian kepada Nabi Saw., pada syiar Islam,  kata hikmat, ungkapan kemuliaan ahlak, zuhud. Sebagaimana hadis yang diwiriyatkan Bukhari dan Muslim dari Said bin Musayyab. Kecuali syair atau kalimat ucapan yang dianggap tercela oleh agama. Sebagaimana hadis Nabi Saw., “bahwa Rasulullah Saw. melarang berdendang lagu syair-syair di dalam masjid”. Hadis hasan riwayat An-Nasai. Hadis ini ditafsil oleh beberapa madzhab.
  13. Disunnahkan menyapu lantai membersihkannya dari bermacam kotoran demi kenyamanan pengunjungnya. Bahwa Nabi pernah membersihkan kotoran ludah orang lain di masjid dengan tangannya sendiri. Rasul bersabda: “Diperlihatkan padaku pahala dari umatku sampai nilai pahala serbuk kecil debu kotoran yang dibersihkannya dari masjid”. HR. Abu Daud dari Anas ra.
  14. Diantara bid’ah yang patut diinkari yaitu menyalakan lampu penerangan di masjid pada waktu-waktu malam tertentu. Karena dianggap pemborosan dan menyerupai  kaum Majusi.
  15. Sunah bagi yang datang dari sebuah perjalanan (Safar), salat 2 rakaat di masjid
  16. Sangat dianjurkan bagi yang duduk-duduk di masjid (itikaf) diniati menunggu datangnya waktu salat, menyibukkan diri dengan kajian ilmu, dan ketaatan lainnya.
  17. Tidak mengapa mengunci masjid di luar waktu datangnya salat fardu, sebagai upaya pemeliharaan. Jika tidak dikhawatirkan ada mafsadat saat masjid dibuka terus menerus, tidak menurunkan kehormatan masjid maka sunat dibuka.
  18. Makruh bagi yang masuk masjid langsung duduk tanpa didahului salat 2 rakaat.
  19. Tidak pantas bagi seorang Qadhi (hakim) menjadikan masjid sebagai majlis keputusan hukum.
  20. Makruh membangun masjid di atas kuburan. “Allah melaknat Yahudi, mereka menjadikan kuburan para nabi dijadikan masjid.” HR. Syaihain dan Abu Daud, dari Abu Hurairah.
  21. Tembok masjid mulai dari dalam dan luar masjid dihukumi masjid, wajib dipelihara dan dijaga kehormatannya. Termasuk loteng, sumur, emper masjid. (Assyafii dan Ashhabnya menganggap sah beritikaf  di sana (loteng dan emper masjid)
  22. Sunah yang memasuki masjid melepas sandalnya, dan membersihkan sandalnya sebelum masuk masjid. (Karena bisa dijadikan alas pijak untuk salat). Hadis hasan, riwayat Abu Daud dengan isnad sahih.
  23. Makruh hukumnya keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan hingga ia salat terlebih dahulu. Kecuali uzur.
  24. Disunnahkan berdoa saat memasuki masjid dengan kaki kanan dulu

اللهم اغفرلي ذنوبي وافتح لي أبواب رحمتك   Dan  berdoa saat keluar dari masjid dengan kaki kiri.

 أللهم ان أسألك من فضلك ي    أسألك من فضلك

  1. Tidak boleh mengambil sesuatu dari bagian masjid, seperti batu, debu tanah. Boleh membangun masjid di tempat bekas gereja atau pekuburan (setelah digali pindahkan).
  2. Disunnahkan membangun masjid dan memakmurkannya. Makruh menghiasi masjid dengan 2 warna; merah dan kuning.“Kiamat tak kan terjadi hingga manusia membangga-banggakan masjidnya”. HR. Khomsah kecuali Tirmidzi.
  3. Keutamaan masjid begitu banyak diuraikan Nabi Saw. dalam hadis-hadis beliau Saw. “Tempat yang paling disukai Allah yaitu masjid-masjid, dan tempat yang paling dibenci Allah yaitu pasar-pasar (tempat keramaian dan transaksi duniawi)” HR. Muslim dari Abi Hurairah.
  4. Dan seterusnya…(lihat “Fiqhul-Islam wa-Adillatuh” Dr. Wahbah Zuhaili. Juz  I : 400)

Kata ad-Diin dan al-Masaajid diulang-ulang hingga 92 kali. Itulah isarat dan petunjuk kepada umat manusia agar memahami dirinya sebagai hamba Allah, bukan hamba setan, bukan hamba nafsu, dan bukan hamba syahwat. Dengan menganut agama Islam dan ber-ta’alluq (terikat hati) pada masjid, diharapkan kemurahan Allah senantiasa tercurah hingga memperoleh kebahagiaan dan keselamatan abadi.

Wallaahu’alam! *** Oleh Drs. Zaenal Asikin

 

 

Comments