ISTIGHOTSAH, Meminta pertolongan kepada Allah

ISTIGHOTSAH, Meminta pertolongan kepada Allah

 "(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". QS. Al-Anfal:9.

 Bencana, tragedi, atau musibah di dunia bisa sangat mengerikan. Namun bagi mereka yang optimis peristiwa seperti itu bukanlah  kegelapan yang menguburkan  seluruh  harapan.

Pada hari Jum'at 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, kedua pasukan Muslimin dan Musrikin Makkah telah saling berhadapan.  Beliau Saw., memberikan bendera putih kepada Mush'ab bin Umair Al-Badari, bendera  putih yang lain kepada Ali bin Abi Thalib, Al-Hubab bin Al-Mundzir r.a.  Pada saat itulah muncul tiga orang musyrikin dari bani Abdis-Syams dan mereka menantang duel kepada orang-orang dari Bani Hasyim. Tantangan itu disambut oleh Hamzah dan kedua anak saudaranya, yaitu Ubaidah bin Al-Harits dan Ali bin Abi Thalib r.a. Kemudian tiga orang Islam ini berhasil menewaskan tiga musyrik tersebut, sedangkan Ubaidah mengalami luka parah. Seraya mengatakan, "Kami lebih berhak dengan ucapan Abu Thalib; "Kami tidak akan menyerahkannya (Muhammad) sehingga kami terbunuh dalam membelanya. Dan kami melupakan anak-anak kami dan isteri-isteri kami".

Kemudian Rasulullah mengatur barisan serta menasehati para sahabat untuk bersabar dan tetap teguh sambil memperhatikan aktifitas pasukan. Beliau Saw. memohon kepada Allah agar memenuhi janji-Nya. Kemudian datanglah pertolongan Allah yang nyata dengan kekalahan orang-orang musyrikin yang lari ke belakang bercerai-berai.

 

Tragedi mencekam sekalipun, tetap saja diibaratkan mirip gerhana dengan sebuah kepastian; tidak menghilangkan matahari, tetapi hanya menyembunyikannya untuk sementara waktu. Dibalik itu tetap menyisakan harapan untuk bangkit. Harapan akan kebesaran dan kemurahan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a. ia berkata: bahwa Umar bin Khattab bercerita padaku, dia berkata: "Tatkala terjadi perang Badar, Rasul Saw. memandang kaum musrikin berjumlah seribu orang sementara jumlah para sahabat nabi tigaratus sekian puluh orang, lalu Rasul Saw. menghadap ke arah kiblat kemudian menengadahkan kedua belah tangan beliau (memohon kepada Allah) seraya berdo'a memulai dengan sanjung pujian kepada-Nya:

اللّهُمَّ أَنْجِزْلِيْ مَا وَعَدْتَنِيْ  أللّهُمَّ آتِنِيْ  مَا وَعَدْتَنِيْ  أللّهُمَّ اِنْ تُهْلِكْ  هَذِهِ الْعَصَاَبةَ مِنْ أَهْلِ اْلاِسْلاَمِ  لاَتَعْبُدُ فِى اْلاَرْضِ فَمَا زَالَ يَهْتِفُ  بِرَبِّهَِ مَادًّا يَدَيْهِ حَتَّى سَقَطَ رِدَاؤُهُ  عَنْ مَنْكِبَيْهِ فَأَتَاهُ  أَبُوْ بَكْرٍ  فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَأَلْقَاهُ عَلىَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ اِلْتَزَمَ  مِنْ وَرَائِهِ وَقَالَ يَا نَبِيَّ اللهِ  كَفَاكَ مُنَاشَدَتُكَ رَبَّكَ فَاِنَّهُ سَيُنْجِزُ لَكَ مَا وَعَدَكَ. فنزلت هذه الاية .

"Ya Allah tunaikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan padaku, Ya Allah datangkanlah apa yang telah Engkau janjikan padaku, Ya Allah jika Engkau binasakan pasukan Islam ini niscaya tiada orang yang beribadah di muka bumi, demikian beliau Saw., berdo'a terus menerus tiada henti  sambil melebarkan kedua belah tangan beliau sampai serbannya jatuh dari pundak beliau, tak lama Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali serban itu di pundak beliau, dan dia tetap berada di belakang beliau seraya berkata:"Wahai Nabi Allah Cukuplah senandung do'a yang engkau panjatkan kepada Allah, niscaya sesungguhnya akan terbukti apa yang Allah janjikan untukmu". Kemudian turunlah ayat ini. HR. Turmudzi.

Dalam pertempuran berdarah Jihad dijalan Allah, manusia dinisbatkan  kepada Allah. Mereka membawa beban peperangan dengan tabah tanpa mengungkapkan berbagai kegetiran dan ancaman nyawa yang dialami. Mengenai mereka Allah berfirman:

"Dan berapa banyak para nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh" (QS. 3:146 ).

Dan unsur yang paling penting dari ibadah ialah menundukkan hati dan menghadapkan wajah kepada Allah kemudian melangkahkan kaki ke medan tugas  tanpa harus merasa sedih atau terhina. Mengerahkan kemampuan dan mengeksploitasinya hanya untuk Allah.

Do'a Rasul Saw., untuk Fatimah dan Ali r.a.

Pada tahun kedua Hijriyah Rasulullah Saw. mengawinkan putrinya Fatimah Azzahra dengan anak pamannya Ali bin Abi Thalib, ketika itu umur Ali r.a. dua puluh satu tahun sedangkan umur Fatimah lima belas tahun. Mahar yang berikan sebesar empat ratus gram perak dan mengadakan walimah pernikahan yang meriah, yaitu dengan menghidangkan  roti dan makanan yang terbuat dari kurma dan tepung.

Kemudian setelah shalat Isya Rasulullah Saw. menemui keduanya. Beliau menyuruhnya mengambilkan air. Kemudian beliau membacakan do'a pada air itu  dan meludahinya, kemudian beliau memercikan air itu  ke dada Fatimah dan punggungnya  seraya  berdo'a:

اللهُمَّ اجْعَلْ مِنْهُمَا الكَثِيْرَ.

"Ya Allah  anugerahkanlah kepada keduanya keturunan yang banyak dan baik."

Rasulullah melakukan hal sama terhadap Ali sebagaimana dilakukan kepada putri beliau Saw.

Do'a Nabi untuk keberkahan Madinah

Diriwayatkan dari Aisyah r.a ketika Nabi Saw. tiba di Madinah, saat itu Madinah sedang dilanda  wabah penyakit. Tampak diantara kaum Muhajirin yang sakit adalah Abu Bakar dan Bilal r.a  Keduanya terserang demam. Melihat banyak para sahabatnya yang mengeluh Rasulullah  Saw. berdo'a:

اللهم حبب الينا المدينة كحبنا مكة او أشدَّ اللهم صححها وبارك لنا في صاعها ومدها وانقل حمَّاها الى الجحفة.

Artinya:"Ya Allah semoga Engkau membuat diri kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah sehatkanlah penduduk Madinah berilah kami keberkahan dari setiap (jengkal tanah Madinah)takaran besar (Shaa')dan takaran kecil (Mud). Ya Allah pindahkanlah  wabah penyakit ini  dari Madinah ke Juhfah."

Do'a Nabi untuk keamanan

'Aisyah Radhiyallaahu 'Anha, meriwayatkan,"Rasulullah pada suatu  malam sulit  sekali untuk tidur. Beliau berdo'a:"

أللّهُمَّ آتِنِيْ رَجُلاً صَالِحًا مِنْ أَصْحَابِيْ يَحْرُسُنِيْ اللَّيْلَةَ .

Artinya:"Ya Allah semoga Engkau memberikan seorang yang saleh dari para sahabatku  untuk menjaga keamananku  di malam ini."

Tiba-tiba–lanjut- 'Aisyah mendengar suara pedang diluar rumah. "Siapa itu?" Tanya Rasulullah Saw., Sa'ad bin Abi Waqas menjawab, "Saya Sa'ad, wahai Rasulullah. Saya datang kesini untuk menjaga keamanan anda."

Artinya: “Mendengar itu Rasulullah merasa tenang. Ahirnya beliau tertidur dengan nyenyak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam salahsatu riwayat 'Aisyah r.a dikisahkan setelah turun ayat,

واللهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ .( المائدة : 67)

"Allah memeliharamu  dari gangguan manusia(yang berniat jahat)" QS. Al-Maidah:67)

Rasulullah Saw., mengeluarkan kepalanya ke lubang jendela sambil berkata kepada para sahabatnya di luar rumah, "Kalian pulang saja, karena Allah Ta'ala telah  menjamin keselamatanku". (HR. Al-Hakim dan Ibnu Katsir )

Al-Qur'an diturunkan secara haq itu merupakan obat bagi hati dari penyakit, kebodohan dan kesesatan, penyuci jiwa dari perbuatan keji dengki, hawa nafsu dan segala kotoraan.

Allah senantiasa mesti diingat, tidak dilupakan, disyukuri tidak dikufuri, makhluk-makhluknya tidak menjadi alasan, penghalang dan perintang atas apa yang diwajibkan. Insya Allah, jalinan kedekatan kita dengan-Nya membuahkan hasil.

Wallaahu 'Alamu Bimuraadih!

Comments