khutbah idul adha 2020

KHUTBAH ‘IDUL ADHA 2020 M / 1441 H

MEMBANGUN SEMANGAT BERQURBAN

Oleh H. LUKMAN HAKIM

 

(Disampaikan dalam khutbah Idul Adha 1441 H pada hari Jumat 31 Juli 2020 di Masjid Assalaam. Jln Sasakgantung No.11 Bandung)

 

اَللهُ اَكْبَرُ 9 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً. لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. اَللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ اَلْمَلِكُ الْجَبَّار. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ لِيُنْجِيَهُمْ مِنْ عَذَابِ النَّار. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُخْتَارِ. وَعَلىَ اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَار. فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوااللهَ تَعَالىَ وَاعْلَمُوْا اَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. رَفَعَ اللهُ قَدْرَهُ وَاَظْهَر. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Jamaah Idul Adha yang senantiasa mengharapkan ridha Allah swt.

 

Puji syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat Iman, Islam, serta sehat wal afiat sehingga kita dapat beraktifitas selama ini termasuk shalat Idul Adha. Alhamdulillah, tentu merupakan satu kenikmatan dan kebahagiaan yang tak terhingga sekalipun dalam suasana covid 19 yang melanda Bangsa Indonesia dan dan Bangsa-Bangsa di dunia, bahwa pada hari ini kita merayakan hari raya Idul Adha, hari raya terbesar bagi umat Islam yang pelaksanaannya sedikit berbeda dari biasanya, sesuai aturan protokol kesehatan.

 

Hari raya Idul Adha juga merupakan hari raya istimewa karena dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.

Kedua ibadah agung ini tentu hanya mampu dilaksanakan dengan baik oleh mereka yang memiliki kedekatan dengan Allah. Kata “Qurban” berasal dari kata “qaruba” yang berarti dekat. Hamba Allah yang memiliki kedekatan dengan Rabbnya dia akan mengatakan “Labbaik Allahumma Labbaik”–Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah. Aku memenuhi panggilanMu.

 

Demikian juga dengan ibadah qurban. Seseorang yang jauh dari Allah tentu akan berat mengeluarkan hartanya untuk tujuan ini. Namun mereka yang posisinya dekat dengan Allah akan sangat mudah untuk mengorbankan segala yang dimilikinya semata-mata memenuhi perintah Allah swt.

 

Mencapai posisi dekat dengan Allah tentu bukan merupakan bawaan sejak lahir. Melainkan sebagai hasil dari latihan mujahadah dalam menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah. Karena seringkali terjadi benturan antara keinginan diri (hawa nafsu) dengan keinginan Allah (ibadah). Disinilah akan nyata keberpihakan seseorang apakah kepada Allah atau kepada selainNya. Sehingga pertanyaan dalam bentuk “muhasabah/evaluasi diri” dalam konteks ini adalah, “mampukah kita mengorbankan keinginan dan kesenangan kita karena kita sudah berpihak kepada Allah?…Sekali lagi, ibadah haji dan ibadah qurban merupakan gerbang mencapai kedekatan kita dengan Allah swt. Walaupun pada tahun 2020 ini pelaksanaan ibadah haji ditunda, mengingat musibah covid 19 belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Manusia yang begitu dekat dengan Allah yang diberi gelar Khalilullah (kekasih Allah) adalah Nabi Ibrahim as. Sosok Ibrahim dengan kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah tampil sekaligus dalam dua ibadah di hari raya Idul Adha, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran nabi Ibrahim tidak bisa dilepaskan. Tercatat bahwa syariat ibadah ini sesungguhnya berawal dari panggilan nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah swt dalam surat Al-Hajj: 26-27.

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil sebagai manusia pertama yang mendapat ujian pengorbanan dari Allah swt. Ia harus menunjukkan ketaatannya yang totalitas dengan menyembelih putra kesayangannya yang dinanti kelahirannya sekian lama. Allah SWT berfirman :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٠٢

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat: 102). Begitulah biasanya manusia akan diuji dengan apa yang paling ia cintai dalam hidupnya.

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Andaikan Ibrahim manusia yang dha’if, tentu akan sulit untuk menentukan pilihan, Allah atau Isma’il. Berdasarkan rasio normal, boleh jadi Ibrahim akan lebih memilih Ismail dengan menyelamatkannya dan tanpa menghiraukan perintah Allah tersebut. Namun ternyata Ibrahim adalah sosok hamba pilihan Allah yang siap memenuhi segala perintahNya, dalam bentuk apapun. Ia tidak ingin cintanya kepada Allah memudar karena lebih mencintai putranya. Akhirnya ia memilih Allah dan mengorbankan Isma’il yang akhirnya menjadi syariat ibadah qurban bagi umat nabi Muhammad saw.

 

Karena itu, dengan melihat keteladanan berqurban yang telah ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as, hendaknya dapat dijadikan pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Tentu, negeri ini sangat membutuhkan hadirnya sosok Ibrahim yang siap berbuat untuk kemaslahatan orang banyak meskipun harus mengorbankan apa yang dicintainya.

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Ketaatan yang tidak kalah teguhnya dalam menjalankan perintah Allah adalah ketaatan Isma’il untuk memenuhi tugas bapaknya. Pertanyaan besarnya adalah: kenapa Isma’il, seorang anak yang masih belia rela menyerahkan jiwanya?. Bagaimanakah Isma’il memiliki kepatuhan yang begitu tinggi?. Nabi Ibrahim senantiasa berdoa: “Tuhanku, anugerahkan kepadaku anak yang shalih (Ash-Shaffat: 100). Maka Allah mengkabukan doanya: “Kami beri kabar gembira kepada Ibrahim bahwa kelak dia akan mendapatkan ghulamun halim”/seorang anak yang mulia. (Ash-Shaffat: 101). Inilah rahasia kepatuhan Isma’il yang tidak lepas dari peran serta orang tuanya dalam proses bimbingan dan pendidikan. Sosok ghulamun halim dalam arti seorang yang santun, yang memiliki kemampuan untuk mensinergikan antara rasio dengan akal budi tidak mungkin hadir begitu saja tanpa melalui proses pembinaan yang panjang. Sehingga dengan tegar Isma’il berkata kepada ayahandanya dengan satu kalimat yang indah : “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang diperintahkan Allah, niscaya ayah akan mendapatiku seorang yang tabah hati, insya Allah”. (Ash-Shaffat: 102)

 

Orang tua mana yang tak terharu dengan jawaban seorang anak yang ringan menjalankan perintah Allah yang dibebankan kepada ayahandanya. Ayah mana yang tidak terharu melihat sosok anaknya yang begitu lembut hati dan perilakunya. Disinilah pentingnya pendidikan keagamaan bagi seorang anak sejak kecil, jangan menunggu ketika mereka remaja apalagi dewasa. Sungguh keteladanan Ibrahim bisa dibaca dari bagaimana ia mendidik anaknya sehingga menjadi seorang yang berpredikat ‘ghulamun halim’, anak yang sholeh dan berbudi pekerti yang baik.

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Setelah mencermati dua pelajaran kehidupan yang sangat berharga di atas, Prof. Dr. Mushthafa Siba’i pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati: “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya di atas kepentingan orang lain?

 

Memang secara fithrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun demikian, manusia pada dasarnya adalah  cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain.

 

Dalam hal ini, tentu kita sepakat bahwa kita sangat berhutang budi terhadap orang-orang yang telah berkorban dan mendahulukan kepentingan orang lain. Kita berhutang budi dalam bidang ilmu pengetahuan kepada para pengarang, seperti para ulama, muhadditsin, mufassirin dan filosof yang dengan tekun menghabiskan usia mereka untuk menulis dan memenuhi lembaran-lembaran kertas dengan hikmah dan ilmu pengetahuan.

 

 

Allaahu akbar 3x wa lillaahil hamd

Kita pun berhutang budi dalam memanfaatkan negeri ini kepada orang tua generasi pendahulu, para perintis dan mereka yang telah berjasa untuk itu. Kita pun berhutang budi dalam masalah aqidah dan agama yang kita banggakan ini, kepada generasi salafush shaleh yang menanggung bermacam-macam kesulitan dan penderitaan dalam mempertahankan risalah ini. Mereka telah mengorbankan harta dan jiwanya menghadapi musuh-musuh Islam untuk menyampaikan agama ini kepada orang-orang setelah mereka.

 

Maka sepatutnyalah kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita. Akankah generasi kita saat ini mampu menghargai makna pengorbanan? Apakah generasi kita mampu mempertahankan akhlak yang luhur sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as terlebih nabi kita Muhammad saw, demikian pula para sahabat Rasulullah dan para generasi salafush shalih.

 

Karena itu, hari raya Idul Adha kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain.

 

Semoga akan lahir keluarga-keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan untuk seluruh umat. Amin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْم. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KHUTBAH KE-2 IDUL ADHA

 

اَللهُ اَكْبَرُ 7 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ اْلاِنْسَانَ خَلِيْفَتَهُ فِى الدُّنْيَا عَلَى الدَّوَامِ. وَاَكْرَمَنَا وَفَضَّلَنَا عَلَى غَيْرِنَا مِنْ جَمِيْعِ الْحَيَوَانَاتِ وَالْهَوَام. اَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ اْلاَنَامِ. اَمّاَ بَعْدُ فَيَااَيُّهَاالنَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِى جَمِيْعِ الْحَالاَتِ وَالْمَقَالاَتِ عَلىَ الدَّوَامِ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُصُوْصًا لِسَيِّدِنَا اَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَعَلىَ اَزْوَاجِهِ اُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَقَرَابَتِهِ خُصُوْصًا سَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَفَاطِمَةَ الزَّهْرَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ آمِيْن يَارَبَّ الْعَالَمِيْن.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ يَاقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ بَلْدَتَنَا هَذِهِ بَلْدَةً اِنْدُوْنِسِيَابَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن

Ya Allah, Ya Karim. Pada pagi yang cerah ini saat kami merayakan Idul Qurban kami mengenal sebagian tentang pribadi imam kami Nabiyullah Ibrahim as yang Engkau nyatakan patut untuk menjadi suri tauladan dalam hidup kami.

Ya Allah, Ya ‘Aliim. Dengan segala kerendahan dan keterbukaan, kami nyatakan padaMu bahwa betapa rendahnya kadar iman kami dalam membela dan mempertahankan keyakinan agama kami.

 

Ya Allah, Ya Ghofuur. Betapa banyak kami telah meminta kepadaMu, dan betapa banyak nikmat dan karunia dariMu, tetapi sungguh kami masih sangat sedikit berkorban untuk agamaMu apalagi berkorban karenaMu.

 

Ya Allah, Ya Jabbar, Yaa Qohhar. Betapa lemah diri kami, betapa kuat nafsu dan setan menggoda kami, tak aneh dosa dan kesalahan pun banyak menyertai hidup kami, lindungilah kami yaa Allah, berikanlah kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi ujian dan godaan ini.

Allahumma ya Allah ya Ghofuur. Ampunilah dosa dan kesalahan kami, ampunilah dosa dan kesalahan ibu bapak kami, ampunilah dosa dan kesalahan para pemimpin kami, tiada ampunan selain dariMu wahai Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Comments