MEMAKNAI HAJI MABRUR

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat dikatakan memperoleh haji mabrur adalah apabila jamaah sekembali dari menunaikan haji menjadi lebih baik dari sebelumnya baik dari sisi ibadah kepada Allah maupun tingkah lakunya. Setiapjamaahcalon haji pastimendambakan haji mabrur.Doakeluarga, tetangga, temandankerabatdekatlainnyadisaat akan berangkat senantiasadiharapkan agar calon haji tersebutmeraih haji mabrur. Meraih haji mabrur itu mudah diucapkan namun sulit direalisasikan. Karenasangatsulitdiperolehnilai haji mabrurmakalayaklahbilaRasulullah saw menyampaikandalam sabdanya, "Haji mabrur itu tiada balasan yang paling pantas kecuali Surga". Imam Nawawi di dalam syarah Muslim berpendapat bahwa orang yang mengerjakan haji itu bukan saja dosanya diampuni Allah tetapi dia pun akan mendapat balasan yang lebih dari itu yaitu Surga. Pada hadits lain, dari Aisyah ra bahwa beliau pernah bertanya Nabi saw, "Wahai Rasulullah, kami berpendapat bahwa jihad itu adalah amalan yang paling baik. Bolehkah kami keluar berjihad? Jawab Baginda," Tidak, tetapi jihad yang paling baik ialah haji mabrur”. (Hadis Bukhari). Sama juga dengan hadits Bukhari lainnya, “Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata keji dan tidak berbuat fasik maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar Asy Syafi’i ra mengatakan, “Haji disebut jihad karena di dalam amalan tersebut terdapat mujahadah (jihad) terhadap jiwa. Ibnu Rajab Al Hambali ramengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol. Inilah yang menunjukkan keutamaan haji, yaitu haji yang mabrur. Sungguh mulia sekali jika seseorang mampu menunaikannya di saat memiliki kemampuan. Jihad tentu saja memang butuh perjuangan. Di negeri kita, mungkin saja harus mengantri sampai bertahun-tahun, ada yang bisa sampai 10 tahun untuk bisa berangkat haji. Inilah jihad, mujahadah (perjuangan) dan kesabaran dalam menghadapi kerasnya iklim haji, cuaca yang terik dan sebagainya.

Seseorang meraih atau tidaknya nilai haji mabrur ditentukan oleh kondisi sebelum berangkat menunaikan haji, saat berhaji dan pasca menunaikan haji. Yaitubagaimanatiga kondisi di atas dapat dimanfaatkan dengan melakukan aktivitas-aktivitaspositif :

Sebelum berangkat haji
Harapan agar mencapai haji mabrur sangat besar ditentukan oleh faktor sejauhmana melakukan persiapan-persiapan diri yang positif. Menyiapkan bekal dari harta yang halal merupakan faktor utama memperoleh haji mabrur. Sabda Rasulullah saw, “Sesuatu yang tumbuh dari hasil yang haram maka akan menimbulkan perbuatan haram”. Maksudnya apabila kita makan harta dari jalan yang haram seperti korupsi, mencuri, hasil berjudi dan lain-lain atau secara dzati diharamkan seperti daging babi, minuman khamer dan lainnya maka pada dirinya akan timbul pemikiran untuk melakukan perbuatan haram karena yang dimakannya harta haram. Mafhum mukholafah (pemahaman terbalik) dari keterangan ini adalah bila seseorang menyiapkan bekal dan makan dari harta yang halal selama menunaikan ibadah haji dan pasca haji, Insya Allah dalam dirinya berfikir positif dan melakukan aktivitas positif, perbuatan yang baik dan benar menurut ketentuan Allah dan RasulNya. Karena itu Allah SWT menyampaikan dalam firmanNya agar senantiasa menyiapkan bekal dengan ketaqwaan : (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS.Al Baqarah : 197) Artinya bekal yang paling baik adalah taqwa, yaitu menjaga diri dari sesuatu yang dilarang dan diharamkan Allah dan RasulNya.

Selain itu seorang calon haji senantiasa bertaubat kepada Allah atas kesalahan dan dosa yang telah dilakukan. Bentuk dosa kepada Allah diantaranya lalai ibadah kepadaNya, meninggalkan ibadah shalat lima waktu, melanggar sumpah atas nama Allah dan mengingkari janji kepadaNya. Apabila seseorang memohon ampunan Allah dengan sungguh-sungguh, menyesali perbuatan dosa yang dia lalukan serta berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan serupa maka pasti Allah akan mengampuni orang tersebut sekalipun dosanya sampai memenuhi langit dan bumi. Demikian pula dosa kepada sesama diantara mereka hendaknya diishlahkan dengan saling maaf memaafkan. Allah SWT belum menerima sebagai sebuah kebajikan tatkala seorang muslim belum menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan hak adami. Walimatussafar dilaksanakan sebagai sebuah upaya meminta maaf kepada keluarga, tetangga, dan handai taulan. Dan sekaligus mohon doa dari mereka agar diberi kesehatan lahir batin dan kelancaran dalam menunaikan seluruh rangkaian haji. Bagaimana ia akan meraih nilai haji mabrur sementara dia masih memiliki permasalahan hak adami yang belum tuntas?

Saat melaksanakan haji
Bekal ketaqwaan yang dimiliki seorang muslim mampu direalisasikan ketika melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji dan umrah. Ia senantiasa menjaga diri dari berkata rafats (perkataan yang kotor), perbuatan keji dan berbantah-bantahan (QS. Al Baqarah : 197). Seorang muslim pada saat berhaji mampu menjaga larangan-larangan haji ketika berihram. Hal ini hendaknya diperhatikan karena masalahnya bukan hanya sekedar tidak sempurna hajinya tetapi dapat mengakibatkan hajinya tidak sah.

Saat berhaji seorang muslim diharapkan dapat memaksimalkan waktu. Karena pada setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun akan memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Betapa tidak, nilai kebaikan dan ibadah di Masjidil Haram akan dilipatgandakan seratus ribu kali. Shalat sunat dua rakaatyang dilakukan sama dengan melaksanakan dua ratus ribu rakaat. Satu kali khataman al-Quran sama dengan seratus ribu kali khataman, dan sebagainya. Di Mekkah dan Madinah terdapat beberapa tempat mustajab, artinya tempat dimana kita berdoa dikabulkan Allah, seperti berdoa di Multazam, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, Rukun Yamani, Arafah, Muzdalifah dan Mina termasuk berdoa di Raudhah. Selain tempat mustajab, juga waktu mustajab bahkan semua waktu-waktu di tanah suci Mekkah Madinah merupakan waktu mustajab. Kesungguhan meraih nilai-nilai yang luar biasa di atas hendaknya menjadi komitment seluruh jamaah haji agar nilai tersebut benar-benar bisa diraih. Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan jamaah haji meraih haji mabrur saat mereka kembali ke tanah airnya.

Kebersamaan jamaah dan saling membantu serta tolong menolong di antara mereka juga merupakan salah satu faktor bisa meraih haji mabrur. Kita tidak tahu, mungkin saja kepedulian kita serta membantu/menolong jamaah saat menunaikan haji merupakan faktor yang menjadikan seseorang meraih haji mabrur. Hal ini terkadang jarang diperhatikan oleh kebanyakan jamaah. Mereka sering memperlihatkan egonya padahal mereka telah diikat dalam kelompok yang solid layaknya ikatan sebuah keluarga.

Pasca melaksanakan haji
Sesungguhnya mengerjakan haji dan umrah itu amat besar ganjaran di sisi Allah. Sebuah hadis Abdullah bin Masu'd bahwa Rasulullah saw bersabda, "Hubungkanlah kalian semua antara haji dan umrah karena ia menghapuskan dosa dan kemiskinan seperti tukang besi menghembus kotoran besi, emas dan perak. (Hadits Turmudzi). Sabda Rasulullah saw, "Barangsiapa yang menunaikan haji karena Allah dan tidak dicemari dosa dan maksiat, dia akan kembali seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya”. (Hadis Bukhari).

Hadis dari Ubadah bin Samit, menyatakan mengenai wukuf di Arafah, Allah berkata kepada malaikat, "Wahai malaikat, apakah yang dibawa hambaku pada hari ini? Jawab malaikat, "Mereka datang membawa harapan yaitu keridhaan-Mu dan mengharapkan Surga-Mu. Allah menjawab, "Wahai malaikat, sesungguhnya aku menjadi saksi bahwa segala dosa mereka diampuni Allah walaupun sebanyak butiran pasir di pantai". Adapun ketika melontar jamarat, bagi setiap batu yang dilontar akan menghapuskan satu dosa besar. Ketika tawaf dilakukan, malaikat akan datang dengan meletakkan tangannya di bahu orang yang sedang bertawaf dan berkata, "Teruskanlah melakukan amalan kebaikan, sesungguhnya kesalahan kamu yang lalu sudah diampuni Allah. (HR Tabrani).

Berdasarkan hadits di atas, Ibnu Hajar dalam fatwanya menyatakan bahwa segala dosa baik kecil atau besar akan diampuni Allah SWT. Karenanya haji mabrur ialah haji yang tidak dicampur dengan perbuatan dosa. Walau ada sebagian ulama berpendapat bahwa maksud mabrur itu ialah makbul yaitu diterima Allah. Nilai-nilai positif di atas diharapkan mampu direalisasikan dalam kehidupan sehari-sehari. Semoga nilai haji mabrur dapat dipertahankan dan terus berlanjut sampai akhir hayat. Amiin.

Comments