Mengenal Kiswah

Bagi umat Muslim, Ka’bah bukanlah menjadi tempat yang asing. Meski tak seluruh umat Muslim pernah pergi ke Ka’bah, namun Ka’bah bukan dimaknai sebatas ‘bangunan’ semata. Lantas, seberapa kenal kah umat Muslim terhadap Ka’bah?

Kiswah adalah kain penutup Ka’bah. Di masa kini, umat Muslim mungkin mengenal kiswah adalah kain berwarna hitam yang dibalut hiasan berwarna emas di sekelilingnya. Dalam kitab Masalik Al-Abshar karya Al-Umary, orang yang pertama kali memperkenalkan kiswah adalah Abu Karb As’ad pada tahun 220 sebelum hijriyah.

Dalam perjalanannya menuju Yastrib (Madinah), Abu Karb melakukan misi tersebut. Ia melakukannya usai bermimpi bahwa dirinya membungkus Ka’bah dengan kiswah. Di samping itu, ia membuatkan pintu dan kunci untuk Ka’bah.

Sejak saat itulah, Ka’bah kerap dibungkus dengan kain. Adapun kiswah yang populer pada masa awal adalah kiswah asal Mesir yang terbuat dari kulit hewan. Dalam buku Mekkah karya Zuhairi Misrawi disebutkan, setiap kabilah Arab pada masanya pernah membawa kiswah dan meletakkan kiswah tersebut di Ka’bah.

Sehingga jika basah, kiswah sudah siap untuk digantikan dengan yang baru. Qushay yang relatif memiliki kekayaan berlebih kerap mengeluarkan anggaran untuk mengganti kain Ka’bah setiap tahunnya. Hal ini juga kerap dilakukan para kabilah lainnya.

Pada masa lampau, memasang kiswah di Ka’bah menjadi kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi suatu kabilah. Melalui kiswah, hal itu menandakan bahwa kabilah-kabilah yang ada telah berpartisipasi dalam rangka mengaggungkan posisi Ka’bah.

Adapun sosok yang dikenal sebagai orang membungkus Ka’bah dengan kiswah yang terbuat dari sutera adalah Ja’far bin Khalid bin Kilab dan Natila binti Jinab. Natila dikenal adalah ibu dari Abbas.

Sedangkan pada masa Rasulullah SAW, menurut Ibnu Hisyam, Ka’bah dibungkus dengan kain berwarna putih yang dibuat di Mesir. Kemudian para pemimpin pasca-Rasulullah SAW pun melakukan hal yang sama. Begitu halnya ketika kepemimpinan Muawiyah, dia pernah membungkus Ka’bah dengan kain sutera.

Waktu terus berjalan, sejarah pun kian berganti. Pada masa Dinasti Umayyah, para pemimpin dinasti ini membungkus Ka’bah dengan cara tidak membuang kiswah yang sudah dipakaikan. Artinya, Kiswah yang lama masih digunakan, sedangkan kiswah yang baru diletakkan di atasnya.

Kemudian pada akhirnya, Al-Mahdi mengambil inisiatif untuk membuang kiswah yang sudah terpakai dan menggantikannya dengan kiswah yang baru tiap tahun. Begitu pula yang dilakukan di masa Dinasti Abbasiyah.

Khalifah Al-Ma’mun pernah membungkus Ka’bah dengan kain sutera, yaitu pada musim haji dengan sutera merah. Dan pada bulan Rajab, Ka’bah dibungkus dengan kain putih, dan sutera putih pada hari ke-27 bulan Ramadhan.

Satu hal yang menjadi ciri khas Dinasti Abbasiyah adalah kerap membungkus Ka’bah dengan kain hitam. Hal ini sebagaimana yang kita lihat hingga saat ini.

Di sisi lain, terdapat suatu peristiwa yang juga dikenang dalam sejarah.

Yaitu upacara pembawaan kiswah dari Mesir menuju Makkah. Para pemimpin di masa lalu sampai mengeluarkan anggaran khusus untuk misi pembuatan dan pembawaan kiswah ke Makkah. Hal ini kemudian menjadi salah satu acara yang menarik, khususnya saat pelaksanaan haji.

Terdapat kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi Mesir karena dipercaya membuatkan kiswah untuk Ka’bah. Pada masa kini, kiswah sepenuhnya di bawah otoritas Kerajaan Arab Saudi. Warna yang digunakan secara permanen adalah hitam. Motifnya pun dibuat dengan sederhana, namun menunjukkan keistimewaan yang luar biasa.

[REPUBLIKA.CO.ID]

Comments