Menilik Masa Depan Madrasah

Pendidikan mempunyai peranan strategis dalam upaya membangun bangsa dengan mempersiapkan kader-kader yang ber-kualitas dan bertanggung jawab, sebagai generasi penerus harapan bangsa. Karena itu, salah satu upaya yang harus dilakukan oleh para pendidik adalah bagaimana ia dapat membina dan membentuk anak tumbuh dan berkembang menjadi besar, sehat, pintar, shalih dan dapat diandalkan. Maka kehadirannya, sangat dinanti-nantikan oleh setiap keluarga sebagai penerus keturunan. Secara indah hal ini digambarkan Al-Qur’an dalam bentuk do’a orang-orang tua, sebagaimana firman Allah:

Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa (Al-Furqan: 74).

Terkait dengan itu, di dalam pembukaan UUD 45 alinea ke-4 disebutkan bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”, cerdas lahir dan batin, jiwa dan raga, jasmani dan rohani. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan pola pendidikan yang diterapkan meliputi jasmani dan rohani. Hal ini, dalam rangka memberikan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan agama.

Maka dalam konteks itulah, pendidikan yang berbasis agama menjadi salah satu alternatif solusi pendidikan dimasa yang akan datang. Karena, selain menawarkan ilmu pengetahuan, juga diyakini dapat menjadi benteng yang ampuh untuk menjaga kemerosotan moralitas bangsa.

Bahkan, menurut praktisi pendidikan, Dr. Rohmat Mulyana bahwa pendidikan agama sebagai salah satu upaya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup manusia, yang pada intinya bertujuan untuk memanusiakan manusia, mendewasakan manusia, merubah perilaku, dan meningkatkan kualitas manusia menjadi lebih baik.

Dinamika Madrasah

Seiring perjalanan ruang dan waktu, perkembangan madrasah di Indonesia mengalami situasi pasang surut (fluktuatif). Namun dalam perkembangan terakhir menunjukan adanya gejala kemajuan, dilihat dari indikator kualitatif dan kuantitatif. Indikator kualitatif, seperti munculnya madrasah-madrasah unggulan yang mempunyai standar internasional. Adapun indikator kuantitatif bisa terlihat pada data perkembangan madrasah melalui tingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah sampai dengan tingkat Aliyah melalui peningkatan yang baik dari tahun ketahun, menandakan bahwa pendidikan agama sekarang ini banyak diminati masyarakat dan mendapat perhatian yang menggembirakan. Tetapi, semua ini tidak akan bertahan lama, tatkala madrasah tidak berbenah diri dan melakukan mutasi kualitatif dari berbagai aspek, baik aspek yang terkait infrastruktur maupun suprastrukturnya.

Selain itu, menjamurnya madrasah-madrasah dengan me-nyuguhkan keunggulan-keunggulan, selain gurunya yang berkualitas ditunjang dengan fasilitas-fasilitas yang cukup memadai, sehingga menghasilkan murid yang berprestasi dan berkualitas. Hal ini, membawa dampak positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di negeri ini. Maka kehadiran madrasah telah nyata membantu pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seperti digambarkan di atas, setidaknya akan memberikan daya tarik bagi masyarakat—terutama bagi orang tua yang secara ekonomi menengah ke atas—sebagai alternatif sekolah untuk anaknya. Sekaligus secara step by step menghapus streotipe bahwa  madrasah identik dengan kumuh dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang miskin (ekonomi lemah). Secara tidak langsung, juga mengangkat citra madrasah secara keseluruhan, walaupun pada nyatanya masih sedikit madrasah yang benar-benar berkualitas. Selayaknya, menjadi motivasi bagi madrasah-madrasah yang lainnya untuk dapat meningkatkan mutunya, sehingga mereka dapat bersaing secara fair dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya, baik yang berbasis agama (madrasah) ataupun dengan sekolah umum.

Peran Ganda Madrasah

Madrasah sebagai subsistem pendidikan nasional mempunyai peran ganda, selain menyelenggarakan pendidikan dasar dan menengah yang berciri khas keagamaan, juga dituntut memainkan peranan sebagai basis dan benteng tangguh yang akan menjaga dan memperkokoh etika dan moralitas bangsa. Jadi tujuan pendidikan madrasah tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan ilmu pengetahuan, tapi untuk meningkatkan moral, melihat dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah laku jujur dan bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati (Dhofier: 1982).

Oleh karena itu, pendidikan madrasah mempunyai peranan strategis yang berupaya mengintegrasikan antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum serta kedudukannya yang kuat dalam sistem pendidikan nasional. Nawawi Hepni dalam tulisannya menjabarkan bahwa madrasah memainkan tiga peranan penting, antara lain:

Pertama,  Media sosialisasi nilai-nilai ajaran agama. Sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas keagamaan melalui sifat dan bentuk pendidikan yang dimilikinya, madrasah mempunyai peluang lebih besar untuk berfungsi sebagai media sosialisasi nilai-nilai ajaran agama kepada anak didik secara lebih efektif karena diberikan secara dini. Sifat keagamaan yang melekat pada kelembagaannya menjadikan madrasah mempunyai mandat yang kuat untuk melakukan peranan tersebut.

Kedua,  Pemelihara tradisi keagamaan. Dilakukan disamping secara formal melalui pengajaran ilmu-ilmu agama seperti Al Qur'an, Hadits, Aqidah, Fiqih, bahasa Arab dan sejarah kebudayaan Islam. Pemelihara tradisi keagamaan ini sedang mendapat tantangan dari perkembangan kehidupan yang bersifat matrealistik dan individualistik sebagai dampak dari pembangunan nasional, khususnya pembangunan ekonomi.

Ketiga,  Membentuk akhlak dan kepribadian. Sistem pen-didikan masih dianggap satu-satunya lembaga masih diakui banyak mencetak calon pendidik yang berwawasan Islam. Banyak masyarakat yang lahir dari lembaga pendidikan ini, bisa diakui karena disamping penguasaan ilmu pengetahuan yang luas juga sangat memperhatikan pendidikan etika dan moral yang tinggi.

Ketiga peranan di atas, merupakan keunggulan madrasah dibandingkan dengan pendidikan umum lainnya. Hal ini, harus menjadi kekuatan sekaligus motivasi untuk meningkatkan mutu madrasah, sehingga madrasah menjadi satu-satunya lembaga pilihan masyarakat.

Kualitas Madrasah

Upaya perubahan menuju tatanan yang lebih baik dan bermakna, merupakan cita-cita banyak pihak. Letak masalah bukan saja pada merumuskan masa depan, tetapi juga— dan lebih penting—pada cara dan langkah yang harus dibangun, demi mewujudkan maksud perubahan tersebut. Banyak pengalaman yang sudah tertoreh dalam sejarah perkembangan umat manusia. Jatuh bangun berbagai kelompok dalam mengusahakan suatu perubahan untuk mengakhiri ketidakadilan, adalah bagian dari sejarah perkembangan dunia. Mana yang lebih baik dan lebih penting dari semua pengalaman tersebut? Semua adalah penting dan semua adalah berharga. Karena itu, semua pengalaman layak untuk dipelajari dan dijadikan rujukan untuk mengembangkan sejarah dan perubahan baru.

Untuk merumuskan masa depan madrasah secara tepat akan perkembangan tuntutan masyarakat kontemporer, sebagai upaya untuk dicarikan langkah-langkah responsif dan efektif merupakan keharusan. Kemampuan dalam merespon tuntunan dan tantangan ini akan menambah optimisme kita, bahwa madrasah dengan visi dan karakternya yang agamais, populis, berkualitas, dan pluralis, akan menjadi model pendidikan pilihan masa depan karena beberapa keunggulan yang dimilikinya. Tentu saja dalam kenyataannya, perwujudan optimisme itu akan sangat tergantung pada komitmen kita semua sebagai stakeholders dunia pendidikan.

Maka untuk meningkatkan itu semua, semata-mata bukan persoalan mudah, paling tidak harus ada beberapa persiapan dan kesiapan yang musti dilakukan. Selain terlebih dahulu membangun kesadaran stakeholders madrasah, juga harus disiapkan beberapa perangkat, baik yang terkait infrastruktur maupun sufrastruktur diantaranya:

Pertama, Infrastruktur, melingkupi manajemen dan administrasi madrasah, penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), materi (kurikulum) dan lain sebagainya. Perangkat infrastruktur ini, menjadi prasyarat terwujudnya madrasah yang berkualitas, sekaligus menjadi faktor dominan terlahirnya siswa-siswa yang berprestasi.

Kedua, Suprastruktur, melingkupi bangunan sekolah, bangunan dan buku perpustakaan yang memadai, labolatorium, sarana dan prasarana ekstra kurikuker, dan lain-lain. Perangkat ini, setidaknya menjadi faktor penguat dari infrastruktur dalam meningkatkan mutu madrasah. Kedua perangkat ini, menjadi kebutuhan yang harus terpenuhi oleh madrasah, yang antara satu sama lainnya saling menunjang.

Seperti telah dikemukakan di atas, untuk mewujudkan madrasah yang berkualitas bukan masalah yang mudah, karena acapkali dalam pelaksanaannya dihadapkan dengan berbagai hambatan baik tekhnis maupun non tekhnis. Sehingga menuntut perencanaan yang matang, dan dilakukan secara terpadu, sistematis dan  berkesinambungan.

Terakhir, andaikan dua perangkat di atas bisa diimplementasikan oleh madrasah, maka kemungkinan terjadinya disparitas mutu antara sekolah umum dengan madrasah dapat direduksi. Wallaahu a’lam. #WIE-Gus

 

Bahan Bacaan:

  • Rohmat Mulyana, Dr. (2007). Naskah buku Mozaik Pendidikan Sejati.
  • Nawawi Hepni. (2007). Madrasah dan Pengelolaan Pendidikan. Jurnal Inovasi seri mutu madrasah & pondok Pesantren Vol. II Jilid 1, Bandung: MDC
  • Hb. Syarief Muhamad Al aydarus (2007), Pendidikan Mewujudkan Keteladanan Sosial. Majalah Assalaam, Edisi 19, Bandung: Yayasan Assalaam 
  • Sistem Pendidikan Nasional (UURI No. 2 Tahun 1992), Beserta Peraturan pelaksanaannya, 1990, Jakarta: CV. Eko Jaya

 

Comments