MUHASABAH

Oleh K.H. Habib Syarief Muhammad Al’Aydarus

Kata “muhasabah” merupakan bentuk mashdar (noun: B. Inggris) artinya introsfeksi atau koreksi diri. Kata ini diambil dari wazan “Faa’ala-yufaa’ilu-mufaa’alah (muhaasabah)” yang mempunyai pengertian makna “saling”. Karena itu pengertian muhasabah merupakan adanya saling koreksi antara dirinya dengan orang lain yang lebih baik maupun dengan dirinya sendiri. Mengapa harus mengoreksi diri dengan dirinya sendiri? Karena berapa banyak orang yang lupa akan jati diri. Dia tidak mengetahui, siapa dia. Who am I?.

Adapun menurut istilah Muhasabah adalah mengoreksi diri akan berbagai kelemahan, kekurangan, kealfaan, kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya dengan melihat kelebihan dan kesalehan orang lain agar dapat memacu dirinya untuk berubah ke arah yang lebih baik (penulis).

Muhasabah adalah sebuah kata yang mudah diucapkan, namun sulit direalisasikan dalam kehidupan. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam muhasabah diri;

  1. Muhasabah prilaku

Sifat ego yang terpatri pada diri seseorang terkadang membuat ia selalu membanggakan dan menyombongkan diri, hebat dan sebagainya, sementara orang lain dianggap lemah, hina. Allah Swt memberikan kritikan kepada manusia yang sombong dan egois.

Artinya: Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (QS. Al Isra: 37).

Seringkali ia selalu melihat dan mengoreksi kekurangan orang lain sedangkan dirinya diabaikan begitu saja. Sebuah pepatah mengatakan, “Kuman disebrang lautan tampak kelihatan, sedang gajah di pelupuk mata tidak kelihatan”.

Sungguh aneh prilaku manusia, kesukaannya memperhatikan aib orang lain. Kalau dia menyadari, tentu cukuplah ia menutupi aib dirinya sendiri. Kenapa ia mencela noda yang terdapat pada diri orang lain tetapi dia tidak melihat perbuatan-perbuatannya yang bernoda hitam. Mengapa ia hanya melihat kesalahan kecil pada kawannya tetapi dia tidak melihat kesalahannya sendiri. Mengapa dia merasa sedih melihat kesalahan orang lain, tetapi dia tidak merasa menyesal atas dosanya yang lebih besar. Apakah tidak ganjil namanya bila seseorang melihat aib diri orang lain, lalu dicelanya dan dia merasa pedih serta kecewa kalau orang lain mengatakan kepadanya sebagian dari aib dirinya.

Begitulah, manusia sepanjang hidupnya berpura-pura tidak tahu tentang urusan dirinya. Ia menjauhkan diri dari memperbaiki dirinya, malah sibuk mencari aib orang lain. Seolah-olah siksaan pada hari hisab nanti akan terjadi hanya karena dosa orang lain, bukan dari perbuatannya sendiri. Seolah-olah dia akan dituntut pertanggungjawabannya pada hari kemudian hanya karena dosa orang lain, bukan disebabkan karena yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Perhatikan firman Allah pada surat Al-Maidah ayat 105;

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu, apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Manusia telah mengetahui bahwa Allah Swt. telah menjadikan untuknya sebuah lidah, dua buah mata, dua telinga, dua tangan dan dua kaki. Semestinya, lidah digunakan untuk berbicara yang baik. Jika tidak bisa, hendaknya ia berdiam diri. Rasul Saw. memberikan pelajaran, “Fal yaqul khairan aw liyashmut”. Hendaknya manusia berkata baik atau diam. Pada hadits lain Nabi saw bersabda: “Man katsura kalaamuhu, katsura khata-uhu”, Barangsiapa yang banyak bicara, maka ia banyak kesalahannya.

Kita mengetahui bahwa  penggunaan pancaindra yang paling banyak adalah lidah, padahal semestinya pemakaian pancaindra itu seperdua dari pancaindra yang lain. Apakah manusia tidak mendengar firman Allah pada surat Al-Balad ayat 8-9:

Artinya: Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata.Lidah dan dua buah bibir (QS. Al Balad: 8-9).

Tentunya manusia mendengar dengan kedua telinganya nyanyian burung-burung di pagi hari, seolah-olah memberi tahu tentang lahirnya hari yang baru, juga bernyanyi mengucapkan selamat bagi hari yang bahagia. Setelah dinikmatinya sebagian pagi, dia pun bernyanyi di kala petang. Dia tidak pernah berhenti bernyanyi sepanjang hari mulai dari terbit matahari sampai terbenamnya, di saat terbang melayang ataupun berhenti, sedang lapar ataupun kenyang, sedang dahaga ataupun segar. Ketahuilah, bahwa burung-burung itu bernyanyi untuk bertasbih memuji Allah Swt. Demikian pula, ranting-ranting yang meliuk melandai ditiup angin, ia merunduk seakan-akan bersujud kepada Allah. Bintang-bintang yang sedang berkerumun di sekitar gugusannya. Gugusan demi gugusan beredar mengelilingi lainnya merupakan suatu wujud, mereka sedang bertasbih memuji Allah.

Peredaran hari, gelapnya malam dan terangnya siang, buah-buahan menjadi masak dan ranting menghijau. Turunnya hujan, kilat menyambar dan petir menggelegar, semua itu merupakan bentuk kepatuhan kepada Sang Pencipta. Pendeknya, segala yang wujud di alam ini sebenarnya mengucapkan tasbih kepada Allah Swt. Sebagaimana firman Allah:

Artinya: Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS. At-Taghabun: 1).

Artinya: Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (QS. Thaaha: 130).

Surat At Taghabun ayat 1 dan surat Thaha ayat 130 di atas, menjelaskan tentang cara tasbihnya makhluk Allah. Kita sebagai manusia merupakan bagian dari makhluk Allah. Alam semesta saja tanpa henti-hentinya memuji Allah. Betapa kita sebagai manusia yang diberi akal, sudah sewajarnya dan seharusnya adanya sebuah kesadaran mematuhi, memuji, menyembah dan bersujud kepada Allah Swt. Tetapi bagaimana kenyataannya? Kebanyakan manusia dikalahkan oleh makhluk lainnya dalam hal pengabdian dan memuji Tuhannya.

Sungguh aneh prilaku manusia. Dengan keangkuhan dan ketamakkannya, yang seharusnya dia bersahabat dengan alam, tetapi ironisnya justru dia merusak alam. Sebagaimana firmanNya:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar-Rum: 41).

Dari akumulasi sejumlah dosa-dosa yang telah dilakukannya, akibatnya Allah menurunkan bahaya dan bencana yang berkepanjangan. Bencana tsunami di Aceh dan Ciamis, lumpur lapindo di Sidoarjo, gempa bumi, tanah longsor, angin puting beliung, banjir dan bencana lainnya yang melanda tanah air, seharusnya dapat dijadikan pelajaran, renungan dan muhasabah (introsfeksi) untuk kembali ke jalan Allah Swt.

Sungguh aneh prilaku manusia. Bila bahaya mengancam, ditimpa kesusahan dan kesulitan, dia yakin bahwa dia pun mempunyai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia mengadukan nasibnya kepada Tuhan. Dia pun berjanji dan berikrar, sekiranya Allah melepaskannya dari bahaya dan kesulitan itu, dia akan tekun beribadah, memuji dan bersyukur kepadaNya. Allah pun melepaskannya dari kesulitan tersebut. Tetapi, dia seolah-olah lupa akan janji dan ikrarnya. Prilaku inilah yang disindir Allah di dalam firmanNya dalam surat Al-An’am ayat 63-64:

Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan: "Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan Kami dari (bencana) ini, tentulah Kami menjadi orang-orang yang bersyukur"". Katakanlah: "Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya"(QS. Al An’aam: 63-64).

Betapa Allah telah memberikan berbagai nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Nikmat tersebut merupakan amanat yang harus direalisasikan kembali dalam bentuk syukur dengan kepedulian memberikan santunan kepada yatim, fakir miskin dan jompo, serta bantuan sarana-sarana agama. Tetapi kenyataannya justru bertolak belakang. Bukankah manusia juga memperhatikan firman Allah pada surat Ad-Duha ayat 9-11?

Artinya: Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan (QS. Ad Duha: 9-11).

Dari beberapa penjelasan di atas, jadikanlah pelajaran yang berharga. Jadikan sebagai sebuah renungan dan muhasabah (introsfeksi) selagi masih di dunia. Jangan sampai kesadaran itu timbul ketika ajal tiba dan menghadap Allah Swt., sebab kesadaran yang timbul saat itu tidak berguna sama sekali. Jadikan hadits berikut ini sebagai renungan!

حَاسِبُوْا اَنْفُسَكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوْا (الحديث)

Koreksilah diri kalian sebelum kalian dikoreksi atau dihisab (pada hari kiamat).   

  1. Muhasabah usia

Ketika manusia berada pada masa empat bulan di dalam  kandungan seorang ibu, Allah menetapkan usianya yang akan dijalani selama masa di dunia. Ada yang usianya ditetapkan Allah 8 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 50 tahun, 60 tahun dan sebagainya. Penetapan usia seseorang--berapa tahun ia diberikan jatah hidup di dunia--itu menjadi rahasia Allah. Tiada seorangpun manusia mengetahuinya. Sesungguhnya, semakin bertambah usia seseorang, maka akan semakin berkurang jatah hidupnya. Setiap hari usia kita dikurangi oleh detik, menit dan jam. Saat ini, kita telah menghabiskan sebagian usia kita dan kita sedang menjalani dan menghabiskan yang sebagiannya lagi. Berapa lama lagi sampai akhir usia kita? Wallaahu a’lam bish shawaab.

Dari usia yang sekian tahun--misalnya 60 tahun Allah berikan jatah hidup--berapa tahun yang telah digunakan untuk ibadah, berapa tahun yang telah digunakan untuk maksiat. Berapa tahun yang terbuang sia-sia? Lebih banyak mana waktu yang digunakan untuk ibadah dibanding dengan waktu yang digunakan maksiat dan terbuang sia-sia? Padahal usia kita akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah pada hari kiamat kelak. Pertanggungjawaban yang diminta bukan hanya hitungan tahun, bulan, hari dan jam, tetapi setiap tarikan nafas yang kita hirup dan hembusan nafas yang kita keluarkan. Digunakan untuk apa ketika itu. Pada dasarnya seorang yang panjang usia adalah mereka yang selalu mengisi waktu ke waktunya agar memiliki nilai ibadah di sisi Allah, bukan mereka yang usianya 70 tahun lebih misalnya, tetapi tidak mempunyai nilai ibadah.

Dalam sebuah ilustrasi dijelaskan bahwa ada seorang kakek yang ditanya oleh seorang anak muda. Anak muda itu bertanya, “Wahai kakek, berapa usia kakek, berapa anak kakek dan berapa harta kakek. Kakek itu menjawab, “Usiaku 15 tahun, anakku satu orang dan hartaku 15 juta. Spontan anak muda itu menyanggah, “Tidak, kakek itu bohong. Sepengetahuan saya usia kakek sudah 70 tahun, anak kakek lebih dari satu orang dan harta kakek melimpah ruah. Mengapa kakek mengatakan seperti itu? Kakek itu menjawab:

“Benar, nak apa yang kamu katakan. Tetapi, dari usia saya yang sudah 70 tahun, baru 15 tahun yang benar-benar saya manfaatkan untuk melaksanakan ibadah sedang yang 55 tahun berlalu sia-sia, tidak dimanfaatkan untuk melaksanakan ibadah”.

“Betul, anakku ada lima orang. Tetapi hanya satu orang saja yang benar-benar menjadi buah hati, taat beribadah selalu mendoakan kepadaku, sedang yang lainnya tidak pernah melaksanakan ibadah. Demikian pula hartaku, memang melimpah ruah (bro di juru, bro di panto ngalayah di tengah imah) tetapi dari sekian hartaku yang banyak itu hanya baru 15 juta saya gunakan untuk shadaqah jariyah”.

Betapa, Rasulullah Saw. menyampaikan pesan kepada kita sekalian agar dapat memanfaatkan sisa umur kita untuk beribadah kepadaNya.

عَجِّلُوْا بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْمَوْتِ وَعَجِّلُوْا بِالتَّوْبَةِ قَبْلَ الْفَوْتِ

Artinya: Segerakan melaksanakan shalat sebelum datang kematian dan segerakan taubat sebelum terlena/terlambat (ajal tiba).

Manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, juga manusia tidak mengetahui kapan ajalnya akan tiba dan di tempat mana ajalnya datang. Karena kita harus selalu menyiapkan bekal amal shaleh untuk kembali ke hadiratNya selagi hayat di kandung badan.

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ 

Artinya: Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Luqman: 34).

Lebih jauh, Allah pun menegaskan dalam firmanNya.

اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا (الكهف : 104)

Artinya : Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (QS. Al Kahfi: 104).

 

  1. Muhasabah harta

Anak dan harta merupakan titipan Allah. Itu merupakan karunia dan nikmat yang sangat besar. Setiap saat kita tidak lepas dari nikmatNya. Sejauhmana kita dapat memanfaatkan nikmat harta yang diberikan Allah untuk mencapai ridhaNya. Sungguh ancaman Allah sangat keras kepada orang-orang yang bakhil, yaitu orang-orang yang tidak mau memberikan zakat, infak dan shadaqah padahal dia termasuk golongan orang yang mampu dan kaya raya.

وَلاَ يَحْسَبُوْنَ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَااَتَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًالَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُوْنَ مَابَخِلُوْا يَوْمَ الْقِيَامَةِ (ال عمران : 108

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat (QS. Ali Imran: 108).

Kebanyakan manusia selalu bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan dan yang lainnya, sehingga telah melalaikan mereka dari ketaatan. Hal ini secara jelas dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an surat At Takatsur.

Artinya: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu) (QS. At Takatsur: 1-8).

فَلاَ تُعْجِبْكَ اَمْوَالُهُمْ وَلاَاَوْلاَدُهُمْ اِنَّمَايُرِيْدُ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِى الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ اَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُوْنَ -التوبة : 55

Artinya: Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan memberi harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka sedang mereka dalam keadaan kafir (At Taubah: 55).

Seringkali kecintaan terhadap harta dan anak melalaikan kita beribadah kepada Allah. Berapa banyak orang membanting tulang mencari harta, seolah malam dijadikan siang dan siang dijadikan malam sampai dia lupa beribadah kepada Allah. Inilah golongan orang-orang yang merugi. Bukankah firman Allah menjelaskan demikian? Bukankah anak dan harta tidak berguna dan tidak bermanfaat jika tidak dibawa sebagai wasilah untuk beribadah kepada Allah?

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ 

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi (QS. Al Munafiqun: 9).

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ

Artinya: (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS. Asy Syu’araa: 88-89).

Muhasabah di atas harus berangkat dari sebuah kesadaran hati yang paling dalam. Selain dari upaya dan usaha secara lahir, munajat dan doa kita pun turut membantu melahirkan sebuah kesadaran introsfeksi diri. Mintalah kepadaKu, pasti Aku kabulkan. Wallahul ‘alam

Comments