PENGUASA HARI PEMBALASAN

Tafsir Alquran

PENGUASA HARI PEMBALASAN

مالك يوم الدين

Artinya, “Yang menguasai hari pembalasan” ( QS. Al Fatihah: 4)

Begitu banyak pengadilan di setiap daerah namun keadilan sangat sedikit dirasakan. Ketidakadilan yang dialami sebagian umat manusia di dunia, tentu diperhitungkan kelak di kemudian hari. Kezaliman terhadap diri sendiri atau penganiayaan si penguasa terhadap orang-orang yang dikuasainya, adalah salah satu bukti akan dialaminya kehidupan akhirat untuk pertanggung jawaban amal. Dengan adil Allah Swt. mengadili mereka di Mahkamah Pengadilan Akhirat. Ini sebagai manifestasi janji dan ancaman Allah kepada hamba-hambaNya. Yakni hari perhitungan amal; pembalasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan dengan pahala; pembalasan bagi orang-orang yang berbuat kejelekan dengan balasan siksa yang pedih.

Hanya Allah yang mengurusi dan menguasai segala urusan di hari kiamat nanti. Karena itu mustahil terjadi penyelewengan, kezaliman  atau ketidak adilan. Sebab hanya ditangani oleh satu  Tuhan; Allah yang Maha Kuasa dan Maha Adil.

*****

مالك

Terdapat dua cara membaca  lafadz “Maaliki” yang mutawatir dalam qiraat sab'ah. Pertama, tanpa memanjangkan harkat fathah pada huruf mim (ملك ). Maknanya bahwa Allah Swt. adalah yang mengatur urusan akhirat dengan perintah dan larangan. (Al Amru wan Nahyu). Kedua, dipanjangkan harkat mim-nya (مالك). Menurut Ibnu Syihab : “Sesungguhnya  Rasulullah Saw., Abu Bakar, Umar, Usman, Muawiyah dan puteranya, Yazid, membaca ayat tersebut dengan memanjangkan harkat fathah pada mim.  Cara ini dilakukan oleh  Imam ‘Ashim, Kisai, dan Ya’qub. Maknanya ialah Tuhan yang mengatur  segala sesuatu di akhirat.

Yauma Laa Tamliku Nafsun Linafsin Syai-an Wal-amru Yauma idzin Lillaahi, artinya: Yaitu hari ketika seseorang tidak berdaya sedikitpun  untuk menolong orang lain.  Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah” (QS.Al-Infithar:).

Ulama berbeda pandangan mengenai bacaan yang paling utama antara  مالك (pemilik) dengan ملك (Raja). Kedua bacaan tersebut diriwayatkan dari Nabi Muhammad Saw., dari Abu Bakar, dan Umar ra.

مالك “Pemilik” lebih utama. Sebab Allah pemilik manusia dan yang lainnya. “Pemilik” lebih berkuasa dan lebih terhormat; agung. Sebab Dialah yang lebih berhak mengatur  hukum-hukum Syarak. Dialah yang berhak memberi tambahan pemilikan.

Kata “Maaliki” yang artinya pemilik adalah lebih utama untuk memuji Sang Pencipta, mengingat “Raja”  ملك berarti pujian yang timbul dari makhluk, begitu meurut Abu Hatim. Al Qurthubi berkata, keutamaannya karena penambahan huruf (alif), maka pembaca mendapatkan sepuluh kebaikan.

Menurut Imam Thurmudzi, Abu Ubaidah, dan Mubarrad, bahwa kata “raja”  lebih utama dan lebih umum ketimbang “Pemilik”. Sebab setiap “raja” mengandung makna “Pemilik”, dan sebaliknya. Juga urusan perintah “Raja” berpengaruh terhadap ”Pemilik” dalam hal penguasaannya. Karena itu “Pemilik” tidak akan bisa bertindak  tanpa pengaturan “Raja”.

يوم الدين

Adakah orang yang mendustakan agama, membohongkan kebenaran firman Allah? Siapakah yang tidak mempercayai hari pembalasan atas amal perbuatan di dunia? Yaitu orang-orang yang tidak menjalankan rukun-rukun Islam dan ajaran agamanya. Mereka yang menganggap bahwa harta kekayaan bakal mengekalkan kedudukannya. Padahal kematian merupakan nasihat paling ampuh untuk merenungkan kehidupannya setelah mati. Kematian adalah batas (barzakh) akhir kehidupan dunia. Dan kehidupan akhirat lebih panjang waktunya, lebih dahsyat dan mengerikan bila tak berbekal amal salih. Ketakwaannya pertanda kemuliaannya saat ia bermukim di hari pembalasan dan perhitugan amal. Saat yang tiada guna harta maupun anak kecuali yang hadir bersama “qalbun saliem”, hati yang damai berkat Iman dan Islam yang diamalkan.

Yauma Idzin Yuwaffiihimullaahu Diinahumul-Haqqu”, artinya: “Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang semestinya”(QS. An-Nuur:25)

Yauma Idzin Tu’rodhuuna Laa takhfaa Minkum Khaafiyatun”, artinya: “Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu) tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi”. (QS.Al-Haaqqah: 18)

A-idzaa Mitnaa wa-Kunnaa Turaaban wa-‘Izhaaman A-innaa Lamadiinuuna”, artinya”: Apakah bila kita mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?”.(QS As-Shaffat:53)

Dalam hadis dinyatakan bahwa: “al Kayyis man daana nafsahu wa’amila limaa ba’dal –mauti”; “Orang cerdas ialah orang yang memperhitungkan dirinya  dan beramal untuk kehidupan setelah mati”.

Lebih jauh Sayidina Umar ra. menjelaskan “Perhitungkanlah diri kalian sebelum diperhitungkan,  dan timbanglah (amal perbuatan) dirimu sebelum ditimbang nanti dan bersiap-siaplah dihadapkan ke mahkamah tinggi untuk diperiksa di hadapan Allah; Yang Maha Mengetahui rahasia perbuatanmu”. (Lihat Ibnu Katsir: 25)

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu) tiada sesuatu pun dari  keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)”. ( QS.69:18)

“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya seseorang walaupun seberat zarrah dan jika ada kebajikan seberat zarrah niscaya Allah akan melipatgandakan  dan akan memberikannya pahala yang besar”. (QS. Annisa : 40).

            “Sesungguhnya Allah tidak akan berbuat zhalim kepada manusia  sedikitpun, akan tetapi manusia itu sendiri yang berbuat zhalim kepada dirinya”. (QS. Yunus:44)

Yang dimaksud dengan Ad-Diin  di sini ialah hari perhitungan dan pembalasan  semua amal perbuatan manusia;”Al-Jazaa wal-Hisaab”.

Allah itu Penguasa masa yang sangat panjang, sejak hidup di dunia sampai hari perhitungan  amal.  Dan menetapnya ahli surga di dalam surga, begitupun ahli neraka di dalam neraka. Demikian Abu Hayyan dalam Bahrul Muhith. Hari yang dimaksud merupakan hari yang luar biasa  penuh kegoncangan.

Kerajaan yang benar  pada hari itu  adalah kepunyaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Dan merupakan suatu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir”. (QS. Al-Furqan: 26)

Kepunyaan siapakah kerajaan hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”. (Al-Mu’min: 16)

Ayat ini letaknya setelah “Arrahmaanirrahiim”. Hal ini berfungsi sebagai “Tarhieb ba’da Targhieb. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang merupakan kabar gembira (targhieb) yang membuat diri kita optimis. Yang Menguasai hari pembalasan ialah berita menakutkan (tarhieb) dan mempengaruhi jiwa kita untuk waspada dengan amal perbuatan  yang dilakukan saat ini. Sebab esok akan diperhitungkan. Ayat serupa yang maknanya berfungsi  sebagai “Tarhieb ba’da Targhieb sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Hijir: 49. “Ceritakan kepada hambaKu, sesungguhnya  Aku Pengampun, dan sesungguhnya  siksaKu  adalah siksa  yang pedih”. "Z.Asikin.

Comments