PUASA Media Pensucian Diri

Pengertian puasa

Secara bahasa, puasa diambil dari kata dasar “shama, yashumu, shauman, shiyaman“ yang berarti menahan. Menurut istilah, puasa ialah menahan diri dari beberapa hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat tertentu. Puasa Ramadan diwajibkan bagi Umat Islam satu bulan sekali dalam setahun.

Ramadan diambil dari kata “ramadha”, artinya “ihtaraqa”; terbakar. Maksudnya bahwa pada bulan Ramadan dosa-dosa seorang hamba terbakar hangus/diampuni oleh Allah Swt. Maka dilihat dari pengertian di atas, penggunaan kata “shaum/shiyam” lebih pada ketentuan hukum berpuasa. Sedang kata “Ramadan” lebih pada pembersihan, kesucian, dan keutamaan berpuasa.

Jadi puasa merupakan media pensucian diri dari segala dosa. Dalam melaksanakan puasa manusia terbagi pada tiga tingkatan, yakni:

1. Puasa Awam

Puasa awam ialah puasa seseorang yang hanya menahan makan, minum dan bersetubuh, dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Sementara perbuatan lainnya seperti dusta, gibah, dan berkata kotor tidak diindahkan serta tidak diperhatikan. Seorang yang berpuasa awam tidak mendapat ganjaran pahala puasanya. Dia hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Sebagaimana hadis Nabi Saw.: Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga (Alhadits).

Janganlah manusia mengira bahwa puasa itu hanya meninggalkan makan, minum dan persetubuhan. Kalau itu yang dilakukan maka dia pun akan mendapatkan sesuai yang diinginkan sebagaimana hadis di atas. Sangat disayangkan, orang yang berpuasa awam ia hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga, sementara pahala tidak ia raih. Inilah puasanya orang yang berdosa dan durhaka kepada Allah dan rasulNya. Dan menurut hemat penulis, keawaman seseorang dalam melaksanakan ibadah puasa disebabkan dua hal:
a) Orang tersebut tidak tahu bagaimana sesungguhnya melaksanakan ibadah puasa yang diharapkan Allah dan rasulNya. Ketidaktahuan itu disebut awam.
b) Sesungguhnya ia tahu mana yang harus ditinggalkan ketika sedang berpuasa tetapi malah melaksanakan hal yang dilarang.

2. Puasa Khawas/Khusus.
Puasa khawas ialah puasa seseorang yang menahan makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenam matahari sekaligus menahan anggota pancaindranya dari hal-hal yang diharamkan. Seperti mata, misalnya bagaimana dia tahan dari melihat yang diharamkan, bagaimana mulut ditahan dari berbicara gibah, fitnah atau perkataan kotor lain. Intinya, seorang yang berpuasa khawas selain memuasakan perut ia sekaligus memuasakan seluruh anggota pancaindranya. Inilah puasanya para shalihin, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Saw.; “Barangsiapa berpuasa karena iman dan mengharap ridla Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (Alhadits).

Orang yang berpuasa khawas akan bisa sempurna bila mengamalkan lima perkara berikut ini:
1) Memejamkan mata dari segala sesuatu yang tercela menurut agama dan kepada sesuatu yang melalaikan hati dari zikir kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Pandangan terlarang adalah salah satu panah beracun dari iblis yang dilaknat Allah. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada Allah, ia pun akan diberi iman oleh Allah yang ia rasakan kemanisannya di dalam hati (Alhadits).
2) Menjaga lisan dari perkataan yang tidak berguna dan dosa. Perkataan yang berguna bagi seseorang sangat berkaitan dengan keselamatan di akhirat dan kebutuhan dalam penghidupan yang membebaskannya dari lapar, haus dan menutup aurat serta memelihara kemaluannya, bukan digunakan bersenang-senang. Sebaliknya, jika ia tidak menjaga lisan seperti menggibah (membicarakan persoalan orang lain yang tidak disukai oleh orang itu), berkata dusta, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat. Rasul menegaskan:
خمسة اشياء تحبط الصوم الكذب والغيبة والنميمة واليمين الغموس والنظر بشهوة (الحديث عن انس بن مالك)
Artinya: Lima perkara yang menghapuskan pahala puasa yaitu ; dusta, menggibah, adu domba/fitnah, sumpah palsu dan melihat dengan nafsu syahwat (Hadits dari Anas bin Malik)

Pada hadis lain Rasulullah Saw. menegaskan bahwa “Sesungguhnya puasa itu perisai. Apabila seseorang dari kamu berpuasa, janganlah berkata keji dan jangan melakukan perbuatan terlarang dan jangan mengganggu orang lain (baik dengan lisan maupun perbuatan).
3) Menahan telinga dari mendengarkan apa-apa yang diharamkan Allah. Sebab mendengarkan pembicaraan yang diharamkan itu sama dengan orang yang berbicara. ”Penggunjing dan pendengar sama-sama berdosa”, begitu kata Rasul.
4) Menahan seluruh anggota badan dari semua yang dibenci. Menahan perut dari makanan syubhat (yang diragukan kemurnian halalnya) di waktu berbuka. Apalagi jika makanan yang dimakannya itu diperoleh dari yang haram. Sebagaimana sabda Nabi: “Suatu hal yang tumbuh dari barang yang haram, maka itu adalah haram”. Setiap orang yang makan makanan haram, maka kecenderungan dalam pikirannya ingin melakukan perbuatan haram. Apalagi dalam melaksanakan ibadah puasa, jika ia tidak dapat menjaga makanannya maka ia juga tidak bisa memelihara puasanya. Dan di lain kesempatan Rasulullah Saw. juga menyatakan bahwa “Allah Yang Maha Mulia perkataanNya berfirman: Sesungguhnya ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya karena Aku. Maka puasa itu untukKu dan Aku yang membalasanya”.
5) Hendaknya orang yang berpuasa tidak terlalu banyak makan sampai penuh perutnya (kamerkaan istilah Sunda) walapun makanan itu halal. Sesungguhnya yang dimaksud dengan puasa adalah mematahkan syahwatmu dan melemahkan kekuatanmu untuk melakukan maksiat supaya engkau menjadi kuat untuk bertakwa. Apabila engkau makan di waktu petang untuk menebus ketinggalan makanmu dari pagi hingga malam, maka tidak ada faidah puasamu. Karena itu para ulama berkata: ”Barangsiapa yang sempurna laparnya, ia pun terlindung dari setan hingga Ramadan berikutnya, karena puasa adalah perisai pada tubuh orang yang berpuasa selama tidak dirusak oleh sesuatu apapun. Jika ia rusak, masuklah setan dari tempat kerusakan itu”.
Al Azizi menyebutkan bahwa perutmu menjadi berat bagimu dan apa yang terdapat di dalamnya lebih dibenci Allah dari pada perut yang penuh dengan makanan halal sebagaimana dalam hadits. Karena perut yang penuh dengan makanan menyebabkan kerusakan agama dan dunia. Kebanyakan penyakit disebabkan oleh banyak makan dan pemasukan makanan dalam tubuh sebelum mencernakan makanan yang pertama. Kalau demikian, bagaimanakah jika yang masuk kedalam perutnya adalah makanan yang haram?

3. Puasa Khawasil Khawas/Khususil Khusus.
Puasanya orang khawasil khawas ialah menahan diri dari kemauan yang rendah, dari pemikiran terhadap duniawi dan senantiasa mengarahkan pemikiran kepada Allah secara total. Jika orang yang berpuasa ini berpikir kepada selain Allah maka batal puasanya. Hakikat kedudukan ini adalah berbakti kepada Allah secara keseluruhan dan berpaling dari selain Allah. Inilah puasanya para Nabi dan para Shiddiiqiin; orang-orang yang benar.

Tujuan Puasa

Allah memerintahkan puasa hanya kepada orang yang beriman, tidak selainnya. Apa-apa yang menjadi perintah Allah pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Allah Swt. Berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa (QS Al Baqarah: 83).

Ayat di atas menunjukkan bahwa tujuan Allah memerintahkan puasa kepada hambaNya adalah agar mereka menjadi orang yang bertakwa, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Ahli hikmah mengatakan bahwa orang yang bertaqwa mempunyai empat ciri sesuai kata “تـقـو ى “ yang terdiri dari empat huruf yaitu;ت ق و ى
1) Huruf ت maksudnya تواضع artinya rendah diri, tidak sombong dan congkak. Selalu mengakui akan kekurangan dirinya, walaupun dia seorang yang tinggi ilmunya, mempunyai kelebihan dari manusia lainnya.
2) Huruf ق maksudnya قناعة artinya sederhana, merasa cukup walau sedikit, selalu berterima kasih dan bersyukur dengan pemberian Allah baik pemberian sedikit apalagi banyak.
3) Huruf و maksudnya ورع artinya orang yang dapat menjaga diri dengan sangat hati-hati dari perbuatan maksiat. Selain itu dia selalu meninggalkan perbuatan syubhat, karena takut tergelincir dalam perbuatan haram. Dalam perbuatannya dia selalu menginginkan perbuatan baik.
4) Huruf ى maksudnyaيقين artinya yakin, teguh, percaya diri mengetahui sesuatu tanpa ragu-ragu. Meyakini sesuatu disertai i’tikad kuat yang tidak mungkin sesuatu yang diyakininya itu bertolak belakang dengan kenyataan. Dia yakin dengan keimanan kepada Allah, teguh pendirian setiap tekadnya dalam melaksanakan kebaikan serta percaya diri dengan apa yang akan dilakukan.

Puasa merupakan dasar ibadah dan kunci kedekatan dengan Allah. Sebagaimana sabda Nabi Saw. Allah Swt. berfirman: “Setiap kebaikan mendapat pahala sepuluh kali lipat hingga 700 kali, kecuali puasa. Karena ia adalah untukKu dan Akulah yang membalasnya”. Maksudnya, Allah telah menentukan besarnya pahala berbagai macam amal bagi manusia dan jumlah berlipat dari 10 hingga 700 kali kecuali puasa, sebab hanya Allah sendiri yang mengetahui jumlahnya dan melipatgandakan kebaikannya. Karena itu ibadah puasa adalah ibadah yang paling disukai di sisi Allah. “Sesungguhnya bau mulut orang yang puasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misik”, begitulah sabda Nabi Saw.

Maksud hadis di atas adalah bahwa bau mulut orang yang puasa lebih banyak pahalanya daripada minyak misik yang disunahkan dalam salat dan majelis zikir. Imam An Nawawi menguatkan dan mengartikan makna harum sebagai penerimaan puasa dan keridlaan Allah. Sedang Al Mawardi berkata, artinya ia lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah dari pada minyak misik. Pada hadis lain Rasul Saw. menegaskan “Surga mempunyai sebuah pintu bernama “Ar Rayyan” yang tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa”. Ini adalah janji untuk berjumpa dengan Allah Swt. dalam membalas puasanya.

Hikmah Puasa.

Orang yang melaksanakan puasa dapat memetik hikmah yang terkandung sebagai pelajaran dan introspeksi diri, diantaranya:
1. Dapat merasakan lapar. Dengan demikian ada perhatian kepada fakir miskin dan kaum jompo. Berapa banyak manusia kelaparan, kekurangan pangan terutama mereka yang berada di bawah jembatan apalagi dalam situasi carut marutnya ekonomi Negara seperti sekarang ini. Siapa yang harus peduli dengan mereka? Orang yang berpuasa harus punya kepedulian terhadap manusia lainnya.
2. Puasa melatih disiplin. Orang yang berpuasa dapat melatih disiplin dan memanfaatkan waktu, baik untuk kebaikan dan amal salih maupun pembagian waktu untuk aktivitas sosial lain yang lebih produktif.
3. Puasa dapat menyehatkan badan. Perhatikan sabda Nabi Saw. ”Puasalah kalian, maka kalian menjadi sehat”.
4. Puasa melatih kejujuran. Dalam keadaan sendirian yang di depannya ada makanan misalnya dia tidak mau memakannya karena ia sedang puasa, dia yakin bahwa Allah selalu mengawasinya.***

Comments