Reaktualisasi Hijrah

Hijrah berasal dari kata “hajaro”, artinya: (1) menjauhi atau menghindari, artinya menjauhi sesuatu karena adanya ketidaksetujuan dan kebencian (2) pindah, meninggalkan, maksudnya meninggalkan sesuatu dengan kebencian menuju sesutu yang disukai atau dicintai. Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan kata “hijrah”. Mereka berkesimpulan bahwa hijrah adalah menghindari/menjauhi diri dari sesuatu, baik dengan raga, lisan dan hati. Hijrah dengan raga berarti pindah dari suatu tempat menuju tempat lain. Hijrah dengan lisan berarti menjauhi perkataan kotor dan keji. Sementara hijrah dengan hati berarti menjauhi sesuatu dari sikap dan i’tikad buruk. Di dalam Al-Quran, Allah SWT menyebut kata hijrah lebih dari 28 kali dalam berbagai bentuk dan makna.

Hijrah Rasulullah saw bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah merupakan momentum yang sangat penting dan tonggak sejarah dalam pengembangan syiar Islam serta menentukan kalender hijriyah. Mereka yang memeluk Islam di awal perkembangannya di Mekkah mengalami intimidasi dari kafir Quraisy. Semakin berkembang Islam, semakin berat pula intimidasi kepada kaum muslimin (assaabiquunal awwaluun) bahkan mereka disiksa dan dibunuh oleh kafir Quraisy. Melihat kondisi kaum muslimin yang semakin berat, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk pindah (hijrah) ke tempat yang lebih aman baik ke Habasyah maupun ke tempat lainnya. Dan terakhir Rasulullah saw hijrah bersama para sahabat ke Madinah.

Kalau dulu Rasulullah saw hijrah bersama para sahabat dari Mekkah ke Madinah disebabkan kondisi keamanan diri mereka terancam, bagaimana dengan kontek hijrah saat ini. Haruskah kita hijrah saat kondisi hari ini yang aman dan tidak terancam jiwa kita. Bagaimana kontek hijrah hari ini? Saat ini kita pun tetap hijrah. Hijrah dalam arti berpindah dari satu kondisi buruk (berbuat sesuatu yang dilarang Allah) kepada sesuatu yang diperintah Allah, “Al haajiru huwa man haajaro maa nahallaahu ‘anhu”, artinya Hijrah itu adalah seseorang yang berpindah dari sesuatu yang dilarang Allah kepada sesuatu yang diperintahkan Allah. Dengan kata lain, kontek hijrah hari ini adalah upaya perubahan diri kepada yang lebih baik, reaktualisasi makna hijrah dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam memahami makna hijrah, ulama membagi dua kategori ; hijrah makaniyah dan hijrah maknawiyah. Hijrah makaniyah maksudnya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan hijrah maknawiyah artinya mengubah diri dari yang buruk menjadi lebih baik demi mengharap keridhaan Allah SWT. Contoh hijrah makaniyah adalah peristiwa hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah serta hijrahnya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, sebagaimana firman Allah, “Maka Luth membenarkan (kenabian) nya. Dan berkatalah Ibrahim: "Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS al-Ankabut: 26). Dan, “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu". (QS al-Qashash: 21).

Adapun Hijrah maknawiyah, yaitu berpindah dari keburukan kepada kebaikan. Hijrah dari kekufuran menuju iman, hijrah dari jahiliyah menuju islam, hijrah dari syirik menuju tauhid, hijrah dari kemaksiatan menuju ketaatan, hijrah dari bid’ah menuju sunnah, hijrah dari jelek menjadi baik, hijrah dari baik menjadi lebih baik lagi, dan sebagainya. Pengertian hijrah maknawiyah ini ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Seorang muslim adalah seseorang yang menghindari menyakiti muslim lainnya dengan lidah dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan semua apa yang dilarang oleh Allah.” (Shahih Al Bukhari).

 

Hijrah maknawiyah dibedakan menjadi empat macam : 1) hijrah i'tiqadiyah (hijrah keyakinan), yaitu seorang Muslim mencoba meningkatkan keimanannya agar terhindar dari kemusyrikan, 2) hijrah fikriyah (hijrah pemikiran), ketika seseorang memutuskan kembali mengkaji pemikiran Islam yang berdasar pada sabda Rasulullah dan firman Allah demi menghindari pemikiran yang sesat. Di sisi lain, seorang muslim bertafakur akan kemahakuasaan Allah, adanya penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang dan sebagainya sebagaimana firman Allah pada surat Ali Imran ayat 190-200, 3) hijrah syu'uriyyah adalah berubahnya seseorang yang dapat dilihat dari penampilannya, seperti gaya berbusana dan kebiasaannya dalam kehidupan sehari-hari. Hijrah ini biasa dilakukan untuk menghindari budaya yang jauh dari nilai Islam, seperti cara berpakaian, hiasan wajah, rumah, dan lainnya. 4) hijrah sulukiyyah (hijrah tingkah laku atau kepribadian). Hijrah ini digambarkan dengan tekad untuk mengubah kebiasaan dan tingkah laku buruk menjadi lebih baik. Seperti orang yang sebelumnya selalu berbuat buruk, seperti mencuri, membunuh, atau lainnya, bertekad berubah kepribadiannya menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

 

Melihat kenyataan yang ada, hijrah saat ini masih sangat relevan untuk diterapkan terutama yang berkaitan dengan hijrah nafsiyah (individu) dengan berusaha menjauhkan diri dari perbuatan yang menyimpang dan berusaha memperbaiki diri untuk bersih dari segala perbuatan kotor, sehingga hati, jiwa dan raga serta segala perbuatan menjadi suci. Dan setelah itu berusaha menghijrahkan keluarga, kerabat, lingkungan dan masyarakat yang ada di sekitarnya (terdekat), hingga pada akhirnya membentuk komunitas yang siap melakukan hijrah. “Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Semoga kita terus mampu melakukan hijrah maknawiyah sebagaimana dijelaskan di atas. Wallaahu a’lam.

Habib Syarief Muhammad Al’aydrus  (Ketua Umum Yayasan Assalaam Bandung)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments