RIZKI YANG   BERKAH

Setiap anugerah dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya dinamakan rizki. Setiap makhluk sudah pasti ia akan memperoleh rizki. Pengertian rizki dimaksud adalah bersifat umum, baik kongkrit maupun abstrak. Rizki yang kongkrit seperti harta kekayaan, pangkat, jabatan dan sebagainya sedangkan rizki yang abstrak seperti rasa senang, hati tenang, gembira, dan sebagainya. Besar kecilnya kadar rizki yang diberikan itu hak Allah yang Maha Menentukan dan Allah adalah Dzat yang maha suci dari kesalahan. Allah Swt. berfirman di dalam Al Quran surat Hud ayat 6 :    

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ  

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

Yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk yang bernyawa. Tidak diragukan lagi tentang banyaknya hewan, beraneka ragam warna dan bentuknya serta jenis-jenisnya di darat, laut maupun di udara. Semua itu hanya Allah lah yang tahu pasti jumlahnya. Dia pula yang tahu pasti bagaimana watak dan tabiatnya, makanannya dan tempat tinggalnya dan hal-hal yang  sesuai atau serasi dengannya.

Dan termasuk dari bagian دابة  yang Allah jelaskan dalam firman di atas adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penciptaan, dan juga makhluk yang paling mulia disisi Allah Swt jika mereka beriman dan bertaqwa. Sebaliknya  manusia juga bisa  lebih hina ketika dia durhaka kepadaNya. Kedudukan manusia baik taqwa ataupun durhaka rizkinya tetap berada dalam  tanggungan Allah SWT. Sungguh sangat wajar manusia yang beriman mendapat rizki dari Allah dan sebaliknya sangat nista manusia yang diberi rizki oleh Allah tetapi ia durhaka kepada Dzat Yang Maha Pemberi rizki. Dalam Al-Quran surat Saba ayat 15 Allah menjelaskan :

لَقَدۡ كَانَ لِسَبَإٖ فِي مَسۡكَنِهِمۡ ءَايَةٞۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٖ وَشِمَالٖۖ كُلُواْ مِن رِّزۡقِ رَبِّكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥۚ بَلۡدَةٞ طَيِّبَةٞ وَرَبٌّ غَفُورٞ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Q.S. Saba:15

Di dalam hadits qudsi Allah Swt. Berfirman, “Wahai  hambaKu  setiap engkau berada dalam kelaparan kecuali orang-orang yang Kuberi makan. Oleh karena itu mintalah makan kepadaKu niscaya Aku akan memberimu makan.” 

Dalam kehidupan manusia, rizki merupakan kebutuhan mendasar untuk melangsungkan hidup dan masa depannya. Sebagaimana disebutkan di atas, rizki adalah setiap anugrah atau ni’mat yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Rizki ini bisa berbentuk makanan, minuman, kesehatan, keluarga, uang, pekerjaan, jabatan, kesenangan, ketenangan, umur, ilmu, dan sebagainya yang dirasakan  nikmat oleh yang menerimanya. 

Berkah adalah kebaikan yang bertambah “al khair mutazayyid”. Bila kita hubungkan antara kata  rizki dengan kata  berkah akan menjadi rizki berkah atau rizki yang berkah.

Rizki yang berkah adalah rizki yang melahirkan  kebaikan. Semakin bertambah rizki maka semakin bertambah pula nilai kebaikan. Nilai kebaikan rizki yang berkah  dapat dilihat dari kehidupan seseorang yang memperoleh rizki yang berkah tersebut baik dilihat dari aspek spiritual maupun sosial. 

 Seseorang yang memperoleh rizki yang berkah, semakin banyak rizki yang didapat maka semakin semangat menunaikan kebaikan atau ibadah baik yang bersifat hablum minAllah ataupun hablum minannas. Apabila semakin banyak rizki menjadi  semakin jauh dari ajaran-ajaran Tuhan, semakin sombong, riya, malas beribadah, dan membawa berbagai kemadharatan berarti rizki itu tidak berkah.

Rizki yang berkah dapat ditinjau dari sembilan aspek yaitu ;  1) Diperoleh dengan cara yang benar, 2) Termasuk dalam kategori yang halal, 3) Ditunaikan zakatnya, 4) Ada yang disisihkan untuk orang lain (shadaqah), 5) Hasil usaha sendiri, 6) Tidak berlebihan, 7) Tidak menimbun, 8) Menyisihkan untuk sosial, 9) Disikapi sebagai sebuah amanah. Semoga bermanfaat.

Disalin dari Buku Hidup Berkah Karya Habib Syarief Muhammad Alaydrus.

Comments