Sifat Fathonah Rasulullah SAW Oleh KH. Habib Syarief Muhammad Al-Aydrus*)

Satu dari empat sifat yang melekat pada diri Rasululah saw adalah fathonah. Fathonah berasal dari akar kata fathuna, fathiinun, fithnatun, fathoonatun, artinya memahami, cerdas, pandai, pintar. Adapun menurut istilah : kecerdasan menyesuaikan diri dalam menyampaikan sesuatu, seperti pepatah Arab, “likulli makaanin maqool, wa likulli maqoolin makaanun”, artinya bagi setiap tempat (ada aturan) pembicaraannya dan bagi setiap pembicaraan ada tempatnya.

Kecerdasan Rasulullah berbeda dari makhluk lainnya. Kecerdasan Rasulullah tidak lain faktor bimbingan wahyu, Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an), menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (para nabi-Nya) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (Allah kepadanya)" (QS. An-Najm : 3-4)

 

Sedikitnya ada tiga aspek kecerdasan yang ada pada diri Rasulullah saw ; 1) Kecerdasan mengamati perkembangan sosial (social perception). Rasulullah SAW adalah sosok yang cerdas sehingga banyak orang yang terpesona oleh kecerdasannya. Seperti saat peletakan hajar aswad setelah Ka'bah direnovasi pasca banjir. Para pemimpin Mekah saling memperebutkan untuk meletakan hajar aswad ke tempat semula. Saat itu muncul usulan dari penduduk Mekah bahwa, "siapa yang pertama kali masuk Masjidil Haram, maka dialah yang berhak meletakkan hajar aswad. Ternyata Rasulullah SAW adalah orang pertama yang memasuki masjid. Dengan demikian beliau berhak untuk meletakkan hajar aswad. Dengan kecerdasannya, Rasulullah SAW menyejukkan suasana amarah pada saat itu dengan memanggil para pemimpin kabilah dan beliau membentangkan sorban dan meletakkan hajar aswad di tengahnya dan masing masing pemimpin kabilah memegang ujung sorban dan mengangkatnya bersama sama. Dari langkah tersebut pertikaian dapat terhindari.

 

Pernikahan Rasulullah SAW dengan isteri-isterinya bukan untuk memenuhi hawa nafsu birahinya tetapi merupakan perintah Allah dan ada motivasi sosial. Isteri-isteri Rasulullah yang dinikahinya tidak lain dengan tujuan mengangkat derajat mereka di mata keluarga mereka dan masyarakat. Seperti Rasulullah menikahi Zainab setelah suaminya Zaid bin Haritsah meninggal dunia karena faktor ingin mengangkat derajat Zainab. Rasulullah tidak merasa sebagai pejabat ketika berada di rumah, beliau tidak pernah membebankan kepada istrinya seperti menjahit bajunya sendiri, memcuci piring setelah makan. Ketika berhadapan dengan istri istrinya beliau bersikap adil sehingga istri-istrinya marasa terpuaskan atas sikap Rasulullah SAW. Saat Rasulullah SAW berada di kota Madinah menghadapi kekhawatiran terjadinya konflik antara pendatang dengan pribumi, Rasulullah SAW membuat suatu kebijakan dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Sebagaimana firman Allah,“Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karuniaNya kepadamu lalu (hati) kamu menjadi puas" (QS Ad-Dhuha : 5). Langkah Rasulullah mempersaudarakan kaum muhajirin dengan anshar karena faktor ingin memberikan ketenangan, ketenteraman dan kekuatan di kalangan umat Islam ; 2) Kemampuan berfikir abstrak (ability in abstract thinking). Dengan kecerdasannya, Rasulullah saw mampu berfikir di luar nalar (abstrak). Beliau mampu melihat jauh ke depan (mustaqbal - futuralistic) terhadap perkembangan dan kondisi umat manusia. Kemampuan berfikir abstrak Rasulullah saw, tidak lepas berdasarkan prophecy (nubuwah, wahyu) sebagaimana firman Allah pada surat An-Najm ayat 3-4. Futuralistik Rasulullah saw tidak sama dengan para futurolog dunia seperti Alvin Toffler, Huntington, John Naisbit, dan Francois Fukuyama.

 

Banyak orang terkesima oleh para futulorog tetapi prediksinya tidak lebih dari 50 tahun. Hal ini berbeda dengan Rasulullah. Rasulullah saw melihat lebih jauh bahkan ribuan tahun ke depan seperti penjelasan Rasulullah tentang kondisi akhir zaman dalam haditsnya : Di akhir zaman, Islam yang ada hanya namanya saja karena orang yang mengamalkan Islam yang sebenarnya sangat sedikit. Al-Quran yang ada hanya tulisannya saja karena banyak prilaku manusia yang jauh dari nilai-nilai Al-Quran”. (Intisari Hadits).  Kelebihan jangkauan pemikiran Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Uwais Al-Qarni Rasul nyatakan sebagai seorang hamba Allah yang terkenal di kalangan penduduk langit karena dia orang yang taat kepada ibunya ; 3) Kebijakan (wisdom). Semua kecerdasan Rasulullah dilandasi dengan kearifan. Dalam berbicara, Rasul menyampaikan dengan bahasa yang lembut, kalimatnya sederhana, mudah dipahami, tidak berbelit-belit, menganut pola gradual (bertahap, sedikit-sedikit). Dalam kondisi marah sekalipun ia tidak menampakkan kemarahanya. Rasulullah SAW  mengingatkan, "Jangan marah kalau ingin masuk surga". Orang cerdas yang arif tidak gampang marah. Rasulullah SAw pernah didatangi seorang badui, kemudian orang tersebut itu buang air di pojok masjid nabawi. Melihat kejadian itu para sahabat marah akan tetapi Rasulullah SAW tersenyum dan berkata, "Janganlah marah sahabatku, biarkan ia selesaikan dulu perbuatannya dan ambilkan air untuk menyiram dan untuknya." Kemudian orang badui itu berdo'a memohon rahmat kepada Allah SWT, Rasulullah SAW mengaminkannya dan setelah itu beliau memberitahukan hal-hal yang baik. Rasul sudah sampai di tingkat kebijakan yang sangat tinggi (halim).

 

Juga tampak kecerdasan dan kearifan Rasulullah SAW bahwa beliau berdoa dan tidak akan puas jika ada satu saja umatnya masuk neraka. Rasulullah SAW bersabda, "semua umatku akan masuk surga kecuali bagi yang tidak mau." Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang tidak mau masuk surga?" Rasulullah menjawab, "Barangsiapa yang taat kepadaku dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka terhadapku dia tidak masuk surga."

 

Kecerdasan Rasulullah SAW bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk umat dan masyarakat islam sedunia. Rasulullah SAW sangat menyayangi umatnya, bahkan tatkala ajal menjemputnya beliau mengatakan, “umatku, umatku, umatku”. Setiap manusia diharapkan mampu terus menerus mencerdaskan dirinya dan bangsanya maka beramalah dengan amalan yang paling utama dalam kehidupannya.

 

Muslim yang cerdas senantiasa meniru Rasulullah SAW dengan istiqomah, membersihkan dan mensucikan dirinya. Rasulullah SAW tidak mempunyai dosa karena telah diampuni oleh Allah SWT, sebagaimana firmanNya, "Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu?" (QS. Al-Insyirah : 1-2)

Kecerdasan Rasulullah SAW dalam hubungan dirinya dengan Allah SWT adalah dengan memperbanyak membaca tasbih. Hubungan kecerdasan dengan memperbanyak membaca tasbih, karena Rasulullah SAW tahu bahwa umatnya mempunyai permasalahan-permasalahan dunia yang dihadapinya, dan kunci penyelesaiannya adalah ketenangan dengan berdzikir kepada Allah SWT. Wallaahu a’lam. Semoga bermanfaat.

 

*) Ketua Umum Yayasan Assalaam

Comments