SIKAP MANUSIA DALAM MENGIMANI ISRA DAN MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW

Penulis     : Drs. KH. Lukman Hakim, Ketua Yayasan Assalaam Bidang Sosial Keagamaan.

Sebuah peristiwa yang paling besar yang telah dialami oleh baginda Nabi Muhammad Saw. dan tidak ada seorang Nabi dan Rasul lain yang mengalaminya. Perjalanan suci menyingkap rahasia alam ghaib.

Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.

Setelah Rasulallah Saw. kembali ke bumi, beliau menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj itu kepada penduduk Mekkah. Banyak diantara mereka yang membenarkan berita tersebut terutama sahabat Abu Bakar Siddik, maka beliau mendapat gelar Ash-Shiddiq. Di sisi lain ada yang menolak mentah-mentah berita itu, dan ada segolongan yang menolak sebagian dan menerima sebagian. Sama halnya dengan keberadaan manusia dalam menerima risalah agama yang disampaikan Rasulullah Saw., ada yang menerima seluruhnya (mukmin), menerima sebagian dan mendustakan sebagian (munafik) dan ada yang menolak, mendustakan seluruhnya (kafir) sehingga dapat dibedakan menjadi tiga golongan:

  1. Golongan pertama (mukmin)

        Adalah golongan orang yang menerima risalah agama secara menyeluruh, lalu membenarkannya dengan penuh keyakinan dan keimanan. Keimanannya lah yang menjadi landasan berpijak menerima risalah yang disampaikan Allah melalui RasulNya. Tanpa harus mengandalkan daya nalar logikanya, karena dia meyakini kemampuan daya berpikir logika sangat terbatas.

Inilah gambaran ciri-ciri orang yang beriman, sebagaimana firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal: 2-4)

Pada ayat di atas ada empat ciri pokok orang beriman:

  1. Bergetar hatinya jika disebut asma Allah dan bertambah imannya ketika dibacakan ayat-ayatNya. Orang yang beriman mempunyai sebuah kekuatan daya tarik atau magnet yang sangat dahsyat antara hatinya dengan Allah, sehingga ketika disebut namaNya bergetarlah hatinya dan bertambah imannya. Ini merupakan bentuk kecintaan mendalam seorang hamba terhadap Khaliknya. Bagaimana dengan kita?
  2. Bertawakal hanya kepada Allah. Tawakal merupakan bentuk pasrah terhadap apa yang selama ini dilakukan. Kepasrahan bukan semata-mata menyerah begitu saja, tetapi telah dilakukan beberapa upaya dan usaha yang maksimal. Orang beriman bukan tipe orang yang mudah menyerah dalam menghadapi masalah kehidupan.
  3. Mendirikan shalat. Shalat sebagai penyangga tegaknya bangunan kehidupan keagamaan seorang muslim. Shalat sebagai sebuah wadah atau tempat menampung berbagai amal kebajikan, seperti zakat, puasa, haji, dan lainnya. Ketika seorang muslim sudah baik shalatnya, maka baik pula seluruh amal perbuatannya. Sebaliknya, jika buruk shalatnya, maka buruk pula seluruh amal perbuatannya. Karena itu, seorang yang telah mendirikan shalat harus mampu mengaplikasikan makna shalat yang ia lakukan, direalisasikan atau diwujudkan dalam kehidupannya sehari-hari.
  4. Menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah.

 

  1. Golongan Kedua (munafik)

    Adalah golongan orang yang menerima, mengimani sebagian dan menolak, mendustakan sebagian. Atau golongan orang yang menerima ajaran islam, rajin ibadah ketika di hadapan manusia agar terlihat oleh mereka sebagai orang yang taat, tetapi jika di belakangnya, justru ia malas ibadah bahkan memusuhi islam. Inilah golongan orang munafik, sebagaimana firman Allah SWT ;

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS. Annisa: 142-143)

Ayat ini menjelaskan gambaran orang-orang munafik. Mereka menipu Allah dan Allah membalas tipuan mereka, artinya Allah membiarkan mereka dalam pengakuan beriman sebab itu mereka dilayani sebagaimana melayani para mukmin. Dalam pada itu Allah menyediakan neraka buat mereka sebagai balasan tipuan mereka itu. Hal ini yang terjadi pada Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik Madinah. Ketika di hadapan Nabi Saw., ia sangat baik sebagaimana sahabat lainnya, tetapi ketika di belakang Nabi Saw. justru dia lah yang mencegah dakwah islam dan memeranginya. Dia ingin dilihat sebagai orang mukmin sejati, tetapi kenyataannya sebagai pengkhianat. Dia melakukan sesuatu amal tidak untuk mencari keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas saja. Karena itu Allah mengancam dengan siksaan yang lebih pedih kepada orang-orang munafik, sesuai firmanNya:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tempat yang paling bawah dari neraka dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka”. (Annisa: 145)

  1. Golongan Ketiga

        Adalah golongan orang-orang kafir. Golongan ini secara terang-terangan menolak dan mendustakan apa yang telah disampaikan Rasul. Dengan hujjah apapun, sekalipun ajakan itu dilakukan dengan baik tetap saja mereka tidak mau menerima dan beriman. Sama saja orang munafik dan orang kafir diancam dengan siksa neraka.

Perhatikan ayat berikut:

“Dan orang-orang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka”. (QS Al Maidah: 86).

Juga pada ayat lain Allah berfirman :

 “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau kamu tidak beri peringatan mereka tidak juga beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat pedih”. (QS. Al Baqarah: 6-7)

Allah menutup pendengaran mereka, yakni orang itu tidak dapat menerima petunjuk, dan segala macam nasehat apapun tidak akan memberikan bekas padanya. Mereka tidak dapat memperhatikan dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an yang mereka dengar dan tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah yang mereka di cakrawala, dipermukaan bumi dan pada diri mereka sendiri. Demikian pula, Allah menutup hati mereka dari cahaya ilahi karena telah terhalangi oleh noda-noda hitam kekafiran. Semoga kita terhindar dari golongan munafik dan kafir.

Comments