Syadzarwan, Marmer Penguat Pondasi Ka'bah (1)

Syadzarwan ini berada dalam bagian bangunan yang berbentuk melengkung dibawah dindingKa'bah sampai ke permukaan tanah, kecuali di Hijir Ismail , karena ambang pintu di Hijir Ismailmerupakan bagian Ka'bah, dengan tinggi 13 cm dan lebar 45 cm.

Diatasnya inilah orang-orang berdiri untuk berdo’a kepada Allah dengan menempelkan perut dan wajah mereka.

Sebetulnya, Syadzarwan ini merupakan bagian dari Ka'bah juga, karena berada diatas pondasi Ibrahim as. Tetapi kaum Quraisy kemudian menguranginya dari kelebaran pondasi dinding Ka'bah. Dan menurut mereka Abdullah Ibn Zubair ra. Membangun Syadzarwan ini ialah untuk melindungi Ka'bah dari genangan dan aliran air, serta mengikatkan tali kiswah penutup Ka'bah pada gantungan tetap berbentuk bulat yang ada padanya.

Marmer yang melekat pada Kakbah ini tidak seluruhnya mengelilingi dinding bagian bawah Kakbah, ia hanya dilekatkan pada sebagian dinding berlawanan dengan Hijir Ismail. Marmer-marmer tersebut dinamai dengan sebutan Syadzarwan yang diambil dari istilah kata idzar yang artinya kain yang dilekatkan pada bagian pinggang dan menjulur sampai ke kaki jika di Indonesia dapat pula dikatakan sebagai sarung.

Meskipun Syadzarwan diambil dari kata idzar namun bukan berarti marmer tersebut dapat dikatakan sebagai sarungnya Kakbah. Sejatinya Syadzarwan hanyalah batu-batu yang dilekatkan pada pondasi Kakbah. Namun ketika Nabi Ibrahim membangun Kakbah, beliau tidak membuat Syazarwan sebagai penguat pondasi tersebut. Sehingga batu marmer yang berada di bagian bawah Kakbah bukanlah konstruksi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s.

Hal ini guna menghindarkan gesekan orang-orang yang sedang Thawaf dengan Kiswah dan dinding Ka'bah, sehingga tidak membahayakan mereka saat berdesak-desakan.

Jadi, pada Syadzarwan dan ambang pintu di Hijir Ismail tersebut dibuat gantungan berbentuk bulat dari tembaga sebanyak 12 +43 = 55 buah (12 di Hijir Ismail dan sisanya sekeliling Ka’bah) sebagai tempat mengikatkan tali kiswah Ka'bah.

Batu-batu yang digunakan untuk menutup Syadzawan tersebut ialah batu pualam dan jenis marmer yang kuat dank eras. Saat direnovasi tahun 1417, yaitu pada masa Raja Fahd, batu-batu pualam tersebut diperbaharui lagi.

Batu marmer putih kekuningan melekat di kaki kakbah ini menjadi penguat berdirinya rumah Allah sebagai kiblat shalat umat Muslim di dunia. Namun apakah marmer tersebut telah ada sejak Kakbah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. dan apakah ia bagian dari Kakbah?

(Bersambung)

Comments