Syadzarwan, Marmer Penguat Pondasi Ka'bah (2)

Seiring berjalannya waktu, Kakbah telah banyak dikunjungi oleh umat manusia sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Meskipun belum turun Syariat Islam, namun ritual tawaf –mengelilingi Kakbah- telah dilakukan masyarakat Arab saat itu. Ketika populasi bangsa Arab makin bertambah, muncul kekhawatiran rusaknya Kakbah jika tidak dipelihara atau dirawat.

Berdasarkan riwayat pembangunan Syazarwan, dikatakan bahwa masyarakat Suku Quraisy pernah megurangi batu pondasi Kakbah sehingga dibuatlah penahanan batu pondasi yang disebut Syazarwan sebagai penguat karena pengurangan batu pondasi dapat berpotensi mengancam kekohan bangunan Kakbah.

Pada sisi lain, Mekkah yang pada dasarnya padang pasir yang tandus dan jarang sekali turun hujan, namun bukan berarti tidak pernah mengalami banjir. Meskipun Mekkah merupakan wilayah padang pasir namun di saat hujan turun deras terkadang Mekkah digenangi air bahkan Kakbah pun turut terendam banjir. Atas dasar inilah maka dibangun penguat pondasi Kakbah agar dapat menjaga bangunan ini dari genangan air yang berpotensi merusak Kakbah.

Dalam istilah sains, batu merupakan zat padat dan keras, namun benda cair seperti air dapat merusak batu ketika zat ini merasuk ke rongga-rongga dan menggerus partikel-partikelnya, sehingga jika semakin sering batu terkena resapan air maka semakin rentan pula batu tersebut dilarutkan, karena air memiliki sifat sebagai pelarut terbaik (best solven).

Meskipun perkembangan sains pada abad ke-6 Masehi masih dikatakan belum maju namun masyarakat Arab saat itu telah mengenal sifat ini tanpa mengerti secara mendalam istilah teori yang terdapat dalam disiplin kimia dan fisika. Maka atas dasar pemeliharaan/pelestarian Ka’bah, dibuatlah Syazarwan dari batu pualam atau yang lebih dikenal dengan batu marmer.

Terkait apakah Syazarwan adalah bagian dari Kakbah atau bukan, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Imam Abu Hanifah, Syazarwan bukanlah bagian dari Ka’bah. Sedangkan Imam Syafi’i, Abu Hamid Al Isfarayini, Ibnu Shalah, dan An Nawawi berpendapat bahwa Syazarwan merupakan bagian dari Ka’bah karena ia melekat pada pondasi Ka’bah. Selain itu jika tawaf melewati bagian atas Syazarwan maka tawafnya harus diulang dari titik pertama.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa Syazarwan adalah bukan bagian dari bangunan Ka’bah karena batu tersebut bukan dibangun oleh Nabi Ibarahim melainkan hal baru yang ditambahkan pada dinding Kakbah.

Meskipun terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini, namun semuanya sepakat bahwa keberadaan Syazarwan yang melekat pada pondasi Ka’bah sebagai penguat dan pelindung dari kerumunan manusia dan genangan air. Keberadaannya ini dapat diterima oleh masyarakat Muslim tanpa ada yang menentangnya.

Selain sebagai penguat dan pelindung Ka’bah, Syazarwan juga berfungsi sebagai dudukan pengait Kiswah Ka’bah. Kiswah Ka’bah yang memilki luas sekitar 600 meter persegi ini dikaitkan pada lubang pengait yang saati ini sebagian pengait tersebut ada yang sudah dilapisi emas dan ada yang masih berbahan stainless steel, pengait ini berfungsi agar Kiswah tidak terjatuh atau terlepas dari kakbah ketika terkena angin dan sentuhan jemaah yang mendekati Ka’bah.

Dalam perjanalannya yang panjang Syazarwan telah mengalami beberapa kali renovasi. Pembangunan pertama, banyak riwayat yang menyatakan bahwa penguat pondasi Ka’bah ini dibangun oleh Abdullah bin Zubair ketika Ka’bah direnovasi di masanya. Namun ada pula riwayat yang menyatakan bahwa Syazarwan juga dibangun oleh Suku Quraisy meskipun dikatakan bahwa merekalah yang mengurangi batu pada pondasi kakbah.

Namun perbedaan pendapat di kalangan sejarawan ini bukanlah hal yang krusial, karena masyarakat Muslim pada umumnya tidak mempersoalkan hal itu. Terlepas dari perbedaan pendapat tentang pelopor bangunan Syadzarwan, namun yang tidak dapat dipungkiri oleh kebanyakan ahli sejarah bahwa Kakbah telah mengalami beberapa kali pemugaran sama halnya dengan Syadzarwan. Tercatat bahwa penguat pondasi Kakbah ini telah mengalami 6 kali renovasi dari tahun 542 H sampai masa kepemimpinan Raja Fahd pada tahun 1417 H.

Bentuk Syadzarwan seperti pelana terdiri dari  68 batu marmer yang dilekatkan pada bagian kaki Kakbah di tiga arah sedangkan di ambang pintu Kakbah tidak terdapat Syadzarwan.

Comments