SYAH JEHAN PENGAGUM KEINDAHAN DAN CINTA

Syah Jehan merupakan raja ke-5 kerajaan Moghul di India.Tatkala masih kanak-kanak, ia bernama Khurram. Ayahnya bernama Jahangir, raja Moghul ke-4 bergelar Nuruddin Muhammad al-Ghazi, yang memerintah pada tahun 1605-1627. Sedangkan ibunya bernama Nur Jahan.

Kesultanan Mughal di bawah kendali Shah Jahan menjadi pusat peradaban yang unggul dalam bidang Sains, Seni, Sastra, serta ilmu-ilmu agama. Sepanjang sejarah Kesultanan Mughal, ada dua raja yang dapat dianggap terkemuka. Mereka adalah Shah Jahan dan Aurangzeb. Kepemimpinan mereka telah memberikan sumbangsih yang besar bukan hanya bagi identitas india sampai saat ini, melainkan juga peradaban Islam.

Shah Jahan lahir dengan nama Syahabuddin Muhammad Khurram pada tahun 1592. Dia merupakan putra Jahangir dari istrinya, Bilqis Makani, yang beragama Hindu. Roger D. Long dalam Encyclopedia of India mendeskripsikannya sebagai raja yang ambisius dan flamboyan.

Saat dia berkuasa, hukum syari'at berlaku secara lebih kaku. Banyak bangunan yang menyerupai penyembahan berhala dihancurkannya. Di lingkungan istana, orang-orang terdekat serta para pengikutnya diberangkatkan ke Tanah Suci.

Sepeninggalan ayahnya, Shah Jahan tampil sebagai putera mahkota yang paling berani. Setelah berhasil merebut kekuasaan pada tahun 1628, dia memerintahkan agar semua lawannya dibunuh, termasuk saudara-saudaranya sendiri. Namun, dia membiarkan Nur Jahan, istri almarhum ayahnya, untuk tetap hidup dalam pengasingan.

Tidak seperti era Jahangir, Shah Jahan memerintahkan ekspansi militer ke daerah-daerah sekitar di anak benua India. Total prajuritnya yang siap tempur mencapai satu juta jiwa.

Persenjataan mereka dilengkapi dengan meriam laras panjang yang dibuat di Benteng Jaigarh, Rajasthan. Sejumlah wilayah kekuasaan Rajput Hindu pun ditaklukkannya.

Tiga negeri otonom muslim di dataran tinggi Dekka, yakni Ahmednagar, Bijapur, dan Golconda, juga terus dkepung sampai menyerah. Pada 1638, Kandahar di Afghanistan dan Balkh di Asia tengah sempat dikuasainya, tetapi lepas tiga tahun kemudian, Shah Jahan merubah birokrasi kerajaan agar lebih  terpusat dan sistematis. Dengan demikian, stabilitas politik dan keamanan dapat terjaga. Seara umum, Kesultanan Mughal di bawah kendali Shah Jahan menjadi pusat peradaban yang unggul dalam bidang sains, seni, sastra, serta ilmu-ilmu agama.

Hal ini didukung sifat Shah Jahan sendiri yang mencintai ilmu pengetahuan dan seni, khusususnya arsitektur. Fisher mengungkapkan, Mughal kala itu menghasilkan kekayaan paling besar di dunia.

Hingga akhir era Shah Jahan pada 1658, jumlah penduduk Anak Benua India meningkat pesat sampai empat kali lipat. Kemakmurannya umumnya berlangsung merata.

Meskipun begitu, pada awal 1630-an wabah kelaparan sempat terjadi akibat gagal panen. Hampir dua juta orang tewas kekurangan gizi di sekitar Dekka, Khandesh dan Gujarat.

Sejak kematian Mumtaz Mahal, kondisi psikologis Shah Jahan terus merosot. Dia tidak lagi cakap memimpin. Anak-anaknya kemudian saling berperang satu sama lain demi mendapatkan takhta.

Nama Shah Jahan berkibar di atas kemegahan bangunan-bangunan yang ia dirikan tatkala menjadi raja. Taj Mahal dan Masjid Jama adalah dua bangunan megah yang ia wariskan kepada dunia. Kini, buku-buku sejarah kekhalifahan Islam mencatat namanya sebagai raja yang berjasa pada peradaban manusia seluruhnya.

Taj Mahal adalah sebuah kuburan megah dengan arsitektur yang indah. Dunia mengakuinya sebagai salah satu keajaiban. Di India, Taj Mahal menjadi bangunan paling indah yang mewarisi peradaban umat Islam di sana. Keindahannya dilihat dari sisi desain dan presisi geometrisnya. Makam Taj Mahal didesain menghadap kota Accra yang merupakan ibu kota Kerajaan Mughal saat bangunan ini dibuat. Tepatnya sebelum ibu kota kerajaan itu dipindahkan ke Delhi (Jalal Abduh Khadasyi: 'Ajaib ad-Dunya as-Sab'u. Hal: 90-92. Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah)

Taj Mahal dibangun di masa pemerintahan Syah Jahan. Yang memeritah tahun 1628-1658 M. Cinta dan rasa sayang pada istrinya, Mumtaz Mahal, adalah yang memotivasinya membangun Taj Mahal. Memori, Kenangan, dan Cinta terhadap sang istri terekspresi menjadi sesuatu keajaiban dunia (Jalaludin Abduh, Hal: 90-92)

Cinta itulah kata atau rasa yang mendorong sang Raja membangun karya-karya agung tersebut. Cinta kepada sang Pencipta, menuntunnya mendirikan Masjid Jama yang begitu megah dan cintanya kepada sang istri membuatnya untuk mendirikan Taj Mahal.

Di mata Shah Jahan, sang permaisuri, Arjuman Banu Begum, adalah sosok wanita sempurna. Tidak hanya cantik parasnya, tetapi juga luhur budi pekertinya, jernih pikirannya, lembut perangainya, lagi arif sikapnya. Ia berlaku adil kepada semua rakyatnya tanpa melihat perbedaan agama.

Namun demikian, sebagai seorang muslimah, Banu Begum memberikan perhatian besar pada pembangunan masjid-masjid di wilayah kekuasaan Moghul. Konon, masjid-masjid yang dibangun di masa pemerintahan Shah Jahan merupakan permintaan sang permaisuri.

Namun, kebersamaan pasangan itu tidak berlangsung lama. Banu Begum meninggal pada tahun 1631 saat melahirkan anak ke-14 nya. Peristiwa itulah yang melahirkan karya Agung berupa Taj Mahal, yaitu makam berkubah untuk mengenang seorang permaisuri tercinta.

Di masa kekuasaan Shah Jahan, Kerajaan Moghul mencapai puncak kejayaannya. Ia dikenal tegas dalam menindak pembesar kerajaan yang tidak jujur. Konon, Shah Jahan memelihara banyak ular berbisa. Ular-ular itu disediakan untuk menghukum mereka yang melakukan pelanggaran dan merugikan kerajaan dan rakyat.

Pada ranah sosial, kebijakan Shah Jahan banyak dipengaruhi oleh kakeknya, Akbar Syah I (Raja ke-3, memerintah pada tahun 1556 - 1605), bahwa semua penganut agama diperlakkan sama. Kebijakan ini berimplikasi pada merebaknya kawin lintas agama. Di samping itu, banyak pegawai kerajaan yang tidak beragama Islam.

Kebijakan Shah Jahan itu dihapuskan oleh raja berikutnya, Aurangzeb, yang tidak lain adalah anak angkatnya. Di tangan Aurangzeb ini, nasib Shah Jahan tidak sebaik sebelumnya. Ia dipenjarakan oleh anak angkatnya itu karena Shah Jahan sebelumnya menghendaki Dara Siqah, yang menggantikannya.

Dara Siqah dibunuh oleh Aurangzeb dan setelah itu memenjarakan Shah Jahan hingga menemui ajalnya pada tahun 1666. Dengan menghapuskan kebijakan lama, Kerajaan Moghul berubah menjadi kerajaan bercorak Islam Ortodoks. Sistem Hukum dalam perundang-undangan ddasarkan pada hukum Islam.

Meskipun mayoritas rakyatnya tidak beragama Islam, namun Aurangzeb mampu mempertahankan keutuhan wilayah kerajaannya yang meliputi seluruh anak benua India. Sepeninggal Aurangzeb, Kerajaan Moghul makin melemah hingga akhirnya dihancurkan oleh penjajah Inggris pada tahun 1857.

 

Sumber : (Islam Digest Republika)

Bandung, 9 September 2020

 

Penulis,

Ana Meliana, M.Ag

 

( Guru PAI SD Assalaam Bandung 

Comments