TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1427 H Semangat Pengorbanan dan Keteladanan

Semangat hidup (tahriedl) tidak boleh padam, bahkan senantiasa mesti menyala setiap saat. Sebab musuh-musuh Islam “fissirri wal-‘alaaniyah”; yang nyata maupun tersembunyi, lengkap dengan persenjataannya siap melemahkan, mengungkung dan “membius” kesadaran umat Islam, hingga takluk dan menjadi budaknya. Sekiranya, tata letak manfaat peringatan hari-hari besar Islam dalam putaran kehidupan umat akhir zaman, yaitu kobaran semangat guna mencapai tujuan mulia dan tiada putus asa sekalipun mengalami kegagalan.
“Dan semua kisah dari Rasul-Rasul kami ceritakan kepadamu ialah kisah–kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Huud:120)
Sungguh tak terasa, ternyata sisa usia kini berada di penghujung akhir tahun dan memasuki awal tahun baru Islam 1 Muharram 1427 Hijriah. Menutup akhir tahun 1426 H dengan doa permohonan kepada Allah agar dosa-dosa, kesalahan, kekeliruan dan segala ketidak sempurnaan aktifitas tahun 1426 H mendapat magfirah dan rahmat Allah Swt. Begitupun mengawali perjalanan panjang ke depan semoga lebih baik lagi dengan agenda program kemaslahatan diri, keluarga dan kejayaan umat senantiasa dalam ridla Allah; penuh keberkahan, petunjuk hidayah dan taufikNya. Amin

الله أكبراللهم أهله علينا بالامن والايمان والسلام والاسلام والتوفيق ما تحبّ وترضى ربنا وربك الله هلال رشد وخير.
“Allah Maha Besar, Ya Allah pancarkanlah cahaya rembulan kepada kami dalam kesentosaan, ketentraman, keselamatan, ke-Islaman dan Taufik atas apa yang Engkau sukai dan Engkau ridlai. Tuhan kami dan Tuhanmu (bulan) adalah Allah, (Pemberi) petunjuk penanggalan yang baik”. )HR. Imam Thurmudzi)
Mengetahui tanggal bulan, merupakan suatu keharusan bagi umat Islam untuk beribadah. Seperti, kapan harus berpuasa, berhaji, salat dan berzakat. Maka mengetahui peredaran matahari dan bulan merupakan fardlu kifayah. “Sesungguhnya pilihan diantara hamba Allah, yaitu orang yang menjaga matahari, bulan, bintang dan bayangan supaya ingat kepada Allah”. (HR. Muttafak Alaih)
Setahun matahari yaitu 365 hari (jika tahun Basithah dan 366 hari kalau tahun Kabisah). Dan setahun bulan, yaitu 354 hari (jika tahun Basithah, dan 355 hari kalau tahun Kabisah). Setahun matahari (Syamsiyah) dengan setahun bulan (Qamariah) adalah selisih 11 hari (menurut Syekh Nawawi Banten 10 hari, 21 menit, lima detik. Lihat Tafsir Al Munir) sebagaimana petunjuk keterangan QS. Al Kahfi ayat 25. “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun”. Maksudnya 300 tahun Masehi sama dengan 309 tahun Qamari.
Dalam Islam, Hijrah menunjuk pada migrasi Nabi Muhammad Saw. dan kaum Muhajirin dari Makkah menuju Madinah Al Munawwarah (QS. Annahl: 41, QS. Annisa: 100). Pada akhir bulan Safar beliau meninggalkan kota Makkah dan tiba di Madinah hari Senin 8 Rabiul Awwal, tepatnya di Quba. Selama empat hari Nabi beristirahat dan membangun masjid Qubba di sana (QS. Attaubah: 108). Kemudian pada hari Jumat 12 Rabiul Awwal Nabi bersama Sayyidina Abu Bakar memasuki kota Madinah pada hari Jumat dengan mendapat sambutan hangat penuh kerinduan dari para penduduknya.
طلع البدر علينا - من ثنيات الوداع
وجب الشكر علينا – ما دعا لله وداع
أيها المبعوث فينا – جئت بالامر مطاع .

“Telah terbit bulan purnama kepada kami dari celah-celah bukit dengan penuh kedamaian. Wajib bagi kami untuk bersyukur kepada seorang penyeru yang telah menyerukan kepada agama Allah. Wahai orang yang telah diutus di tengah-tengah kami engkau datang dengan perkara yang ditaati”.
Saat matahari memasuki waktu Zawaal (sedikit condong ke arah Barat; Zuhur) Nabi Muhamad Saw. bersama para sahabatnya melakukan salat Jumat. Lalu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Peristiwa hijrah Rasulullah dan kaum Muhajirin, para sahabatnya ini menjadi momen penting kalender Islam sebagai motif dalam mengungkapkan aspek politis, kultural, sastra dan estetika dunia Islam.

Makna “Strategis” Hijrah Rasulullah
Makna hijrah secara relegius; niat tulus menuju lingkungan yang lebih baik, membuka era baru sebagai penolakan simbolis terhadap keputusasaan dalam menghadapi kekejaman kaum musyrikin Makkah, guna merespon ancaman terhadap kelangsungan hidup dan keamanan sosial internal umat Islam (QS. Al-Hajj: 58, QS. Attaubah: 20, QS. Ali Imran: 195).
Hijrah mengandung arti pembebasan dari dari fitnah dan penindasan bernilai strategis dalam pengembangan dakwah Islam. Yatsrib, daerah subur tetapi dalam pertikaian yang berkepanjangan antara para tokoh besar suku Aus dan suku Khazraj. Kehadiran Rasulullah dapat merekatkan kembali jalinan silaturahmi diantara mereka.
Berangkat dari kondisi demikian Nabi Muhamad Saw. berhasil meletakkan dasar-dasar ukhuwah; persaudaraan yang sempurna sehingga membangkitkan jiwa pengorbanan yang tiada taranya: Pertama, menguatkan jiwa tauhid. Kedua, memperkokoh hubungan intern umat Islam. Ketiga, mengatur hubungan diplomasi dengan penduduk non muslim di Madinah.
Di Madinah, Rasulullah tidak sekadar pemimpin agama, tetapi sekaligus pemimpin negara. Dalam posisi itulah beliau Saw. menyusun “Piagam Madinah” atau konstitusi Madinah (Mitsaq al Madinah). Prinsip-prinsip umum yang tersimpul dalam piagam tersebut di antaranya sebagai berikut:
1. Monoteisme, yaitu pengakuan hanya terhadap satu Tuhan.
2. Persatuan dan kesatuan.
3. Persamaan dan keadilan.
4. Kebebasan beragama.
5. Pembelaan terhadap negara.
6. Pengakuan dan pelestarian adat kebiasaan yang baik.
7. Supremasi syariat Islam.
8. Politik damai dan proteksi internal.

Secara revolusioner, pasal-pasal yang tertuang dalam piagam madinah telah merombak total sikap “fanatisme kesukuan” (Ashabiyah) yang telah mendarahdaging, prinsip-prinsip persamaan dan keadilan dapat ditegakkan. Pengejawantahan nilai-nilai Qurani dalam pembinaan kehidupan bermasyarakat.
Kini menjadi pandangan hidup modern di dunia, di antaranya prinsip-prinsip hidup berdampingan dengan damai, stabilitas sosial, politik dan ekonomi, persamaan di depan hukum dan prinsip keadilan tanpa merugikan sepihak.
Pada zaman itu pula kota Madinah sebagai pusat kegiatan ilmiah. Umumnya para penuntut dimotivasi oleh semangat keagamaan. Mereka lebih suka berdekatan dengan Rasulullah guna memperoleh ilmu dari beliau, beribadah bersamanya, mendengar sabda-sabdanya dan pergerakan dakwah dibawah komando Nabi Muhammad Saw.

Ujian Berat Meneguhkan Keimanan

Zulhijjah di penghujung tahun Hijriah sarat dengan berbagai peristiwa pengorbanan; Pertama, Jamaah haji rela meninggalkan tanah airnya. Berpisah dengan keluarga tercinta. Mengeluarkan banyak biaya dan tenaga semata-mata memenuhi panggilan Allah. Berharap memperoleh nilai-nilai ke-mabruran dalam meniti karir kehidupan. Walau kondisi Tanah Suci jutaan orang berdesak-desak penuh risiko, kusut masai keadaannya penuh debu (Syu’tsan–Ghubran), letih dan melelahkan namun tak membuatnya surut. Bahkan hal itu semakin menikmati pengabdiannya di hadapan Rabbul ‘alamin.
Kedua, Nabi Ibrahim figur suami teladan menyembelih putranya diperintah Tuhan. Sesaat kemudian ditebus Allah dengan seekor domba (kibas). Mendahulukan titah Tuhan adalah utama. Mengorbankan atribut material duniawiah untukNya lebih utama sekalipun darah dagingnya sendiri demi cintanya kepada Zat yang Maha Esa.
Ketiga, Sayyidah Hajar bersama bayi Ismail As. tanpa keluh kesah rela ditinggalkan suami di padang tandus “Bakkah”. Tatkala perbekalannya menipis bayi Ismail As. kehausan lalu Ibunda Hajar berusaha mencari air untuk anaknya. Berlari kecil mendaki antara Safha dan Marwa hingga tujuh kali “sai”, sesaat kemudian memancarlah air Zam zam dibawah telapak kaki bayi mungil Ismail As. Hadis Nabi menyatakan, “Surga di bawah telapak kaki Ibu”, bahwa khidmat pengorbanan Ibunda tercinta dalam mengurus anak-anaknya untuk mengenal Tuhan dan mengupayakan generasi salih berkah aplikasi ajaran agamanya adalah pertanda surga akan didapat.
Keempat, anak ialah buah hati belahan jiwa bila salah asuhan dan pendidikannya tentu berakibat fatal.
Ismail kecil, calon Nabi pilihan dimintai pendapatnya ketika sang ayah mendapat perintah Allah Swt., “Anni Adzbahuka”; Sesungguhya aku mau menyembelihmu (atas perintah Tuhan) “Fanzhur Maadzaa taraa” bagaimana pendapatmu? Anak berbudi luhur itu penuh santun mematuhinya semata-mata taat kepada Allah, mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bersabar.
Kelima, sembelihan hewan kurban yang dilakukan kaum Muslimin di berbagai pelosok dunia (termasuk di tanah air Indonesia tercinta) merupakan kesalihan sosial, figur bangsa yang selalu siap berkorban untuk kesejahteraan saudaranya yang papa, dhuafa.
Hari raya kurban bertujuan memperingati peristiwa saat Allah menguji keimanan Nabi Ibrahim As. mana yang harus ia pilih, antara cinta bersumber dari yang Hakiki yang berbuah kebahagiaan kekal abadi (Ridla Allah), ataukah kesenangan sesaat duniawi (seperti, anak dll)? bersumber dari syahwat yang bersifat fana (sirna). Karenanya tidak jarang manusia silau oleh gemerlap duniawi, maka tak sedikit dinding yang menghalangi pandangan kita dari kebenaran wahyu Allah.
Kedua hari raya dalam Islam (Idul Kurban dan Idul Fitrah) memperhatikan peningkatan kepedulian sosial. Jika diperhatikan secara mendalam dapat dimaknai, bahwa dengan hari raya tersebut kaum muslimin diberikan aksentuasi oleh Rasulullah agar selalu memperhatikan kebutuhan pangan aktual mereka, baik yang bersumber dari karbohidrat maupun protein (hewani dan nabati). Hal ini menentukan kualitas hidup manusia baik fisik yang akan memotivasi peningkatan kualitas non fisik (Basthatan Fil-‘ilmi wal-jismi).
Dan diharapkan bangsa yang berpotensi besar ini, dapat berorientasi kepada kepentingan bersama, kesejahteraan, kedamaian dan keadilan. Seperti halnya contoh teladan keluarga dan rumah tangga Nabiullah Ibrahim As.

Apakah Pengorbananmu Untuk Bangsa ini?

Nabi Ibrahim ditahan raja Namruz lalu divonis untuk dibakar hidup-hidup lantaran mempertahankan prinsip-prinsip kesalihannya. Nabi Yusuf As. lebih suka di penjara daripada mengumbar asmara dengan wanita terhormat yang menggoda. Nabi Musa As. dan kaumnya dalam intimidasi dan kejaran Fir’aun serta balatentaranya. Nabi Ayyub bersama penyakit dan rasa sakitnya. Nabi Nuh dicemoohkan kaumnya, ditentang anaknya, namun banjir besar dan badai sungguh menguatkan keyakinannya. Begitupula Nabi akhir zaman diantara ’Amul-hazn. Masa keprihatinan beliau bersama para sahabat Muhajirin dan Anshar dengan pengorbanan besar dan memiliki sifat-sifat terpuji begitu indah terukir dalam firman Allah.
Itulah kepahitan hidup dimensi basyariyah; kemanusiaan bagi keteguhan iman, guna hidup lebih bermakna dan memiliki nilai-nilai tepat guna, disamping merupakan ajang latihan batin manusia pilihan Tuhan. Bagi para Nabi, penyakit, membangkitkan kesadaran dan kewaspadaan. Rasa nyeri, mengajarkan ketabahan dan kesabaran. Duka dan sengsara berfungsi menguji sikap mental manusia secara langsung. Derita dan kesulitan hidup sesaat dapat meningkatkan harkat dan martabat di sisiNya.
Betapa indahnya cinta bila diwarnai kasih sayang, walaupun idealnya cinta itu berbalas kasih sayang, perhatian berbalas pengorbanan. Dan pengorbanan Nabi Ibrahim merupakan fakta terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Beliau menyembelih anaknya, Ismail membuktikan kesungguhan cinta dan pengabdian tulus kepada Allah. “Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya kepada Allah semata-mata mengharap ridlaNya”. Ketulusan cinta Ibrahim benar-benar telah teruji. Hidup adalah cinta dan pengabdian.
Tidak jarang kebahagiaan diperoleh ketika tugas selesai diperbuat dengan baik. Cobaan menghadang terkadang perlu. Bahkan hal itu merupakan parameter bagi sempurna dan tidaknya keimanan seseorang. Derajat meningkat saat manusia dihadapkan pada kesulitan demi kesulitan bukan kemudahan demi kemudahan.
Dalam sejarah kemanusiaan, nilai pengorbanan Abul Anbiya; Nabi Ibrahim As. begitu luar biasa, ia harus menyembelih Ismail As., anak yang sangat dikasihi, atas perintah Allah. “Dahulu Ibrahim As. membawa puteranya Ismail untuk dikorbankan di tempat ini dan engkau siapakah dan apakah Ismailmu? Kedudukanmu? Harga dirimu? Profesimu? Uang? Rumah Kebun? Mobil? Cinta? Keluarga? Pengetahuan? Kelas Sosial? Pakaian? Nama? Hidupmu? Keremajaan? Keelokan? Paras mukamu?” Demikian Syariati, dalam bukunya Haji .
Ismailmu adalah setiap sesuatu yang melemahkan imanmu, setiap sesuatu yang menghalangi perjalanamu, setiap sesuatu yang membuat engkau enggan menerima tanggungjawab, setiap sesuatu yang membuat engkau memikirkan kepentingan sendiri, setiap sesuatu yang membuat engkau tidak mendengarkan perintah Allah dan menyatakan kebenaran.
Mengawali aktifitas di tahun baru 1 Muharram 1427 Hijriah dengan meneladani model pengorbanan mereka tidak saja dapat mengangkat derajat bangsa ini. Tetapi lebih jauh dapat menampilkan generasi salih yang selalu siap berkorban tanpa pamrih, lebih mendahulukan kepentingan umat, memberi perhatian lebih serius terhadap kesejahteraan kaum dhuafa dan mustad ‘afien guna berjiwa mandiri (ghina ‘aninnaas) di tengah persaingan global.

Comments