AMALAN AMALAN BULAN MUHARRAM ADAKAH DALILNYA ??

UMAR BIN KHOTTOB DAN KALENDER ISLAM

  1. Muharram merupakan nama awal bulan di dalam Kalender Islam. Banyak sekali peristiwa yang luar biasa terjadi pada bulan ini. Salah satu peristiwa yang terjadi di bulan muharram ini adalah berkaitan dengan historis penentuan Kalender Islam. Jika Kalender Masehi mengalami 2 kali perubahan, yaitu dari Kalender Julian (Julius Caesar)  menjadi Kalender Gregorian ( Paus Gregorius XIII) atau Kalender Masehi, berbeda halnya dengan Kalender Islam yang tidak pernah mengalami perubahan sampai sekarang.

     

    Sejarah munculnya Kalender Islam, bermula pada saat Sahabat Umar bin Khatttab mendapat surat dari sahabatnya Abu Musa Al Asy’ari yang tidak dibubuhi tanggal dan hari, sehingga Umar bin Khattab kebingungan surat mana yang harus lebih dulu ditindak lanjuti, ditambah lagi surat-surat yang ada tidak diberi tanda antara surat baru dan surat lama. Akhirnya Umar bin Khattab memiliki inisiatif untuk mengumpulkan para sahabat pilihan dan mengajak mereka bermusyawarah berkaitan dengan penanggalan dan penentuan tahun di dalam Islam.

     

    Dalam musyawarah tersebut yang pertama kali dibahas adalah tentang penentuan awal tahun di dalam Islam. Kemudian muncul berbagai macam usulan dari para sahabat, diantaranya;

     

    • Ketika kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW
    • Ketika baginda Nabi Muhammad SAW dingakat menjadi Rasul
    • Ketika wafatnya Nabi Muhammad SAW
    • Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah.

     

    Dari 4 usulan di atas, sahabat Umar bin Khattab lebih memilih usulan yang keempat yang dikemukakan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib. Ada beberapa alasan mengapa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dipilih sebagai awal tahun dalam Islam. Pertama, karena Dakwah Islam ketika sudah mulai berkembang pesat, Kedua, Dakwah Islam di Madinah mengalami puncak kejayaan, Ketiga, Menjadi pengingat umat Islam akan semangat perjuangan dan para sahabat dalam menegakkan agama Islam.

     

    Dan perlu diketahui, bahwa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW bukan pada bulan Muharram, akan tetapi berangkat dari Mekkah di akhir bulan Shafar dan tiba di Madinah pada malam tanggal 12 Rabiul Awal.

     

    Pembahasan kedua dalam musyawarah yaitu berkaitan dengan awal bulan dari tahun Islam, pemilihan bulan muharram sebagai awal bulan di tahun hijriyah, karena bertepatan setelah sebagian umat islam menyelesaikan rukun Islam yang kelima yaitu ibadah haji.

  1. Hujjah Tradisi Amalan Bulan Muharram yang dianggap Bid’ah

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah SWT. sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat At Taubah ayat 36

 

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

 

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram”

 

Oleh karena itu, umat muslim berlomba-lomba mengisinya dengan amalan-amalan yang bisa menambah pahala dan kebaikan. Amalan-amalan yang biasa dilakukan ketika bulan Muharram datang diantaranya ; membaca doa’ akhir dan awal tahun, berpuasa, bersedekah, dan sebagainya. Di sisi lain, amalan-amalan yang biasa dilakukan ini, ada beberapa amalan yang sering dikatakan bid’ah oleh sebagian umat Islam yang mengaku dirinya sebagai ahlu sunnah (versi mereka). Amalan bulan Muharram yang sering dianggap bid’ah oleh mereka salah satunya doa akhir dan awal tahun, puasa 10 hari di bulan Muharram dan Hari Raya Anak Yatim. Tuduhan bid’ah yang mereka tujukan terhadap amalan-amalan tersebut membuktikan kedangkalan dan ketidakpahaman mereka tentang konsep bid’ah yang sesungguhnya. Mari kita simak penjelasan berikut ini; 

 

  1. Dalil Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun

Allah SWT berfirman dalam Surat Ghafir ayat 60

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir : 60).

 

Ayat di atas menegaskan bahwa berdo’a itu adalah perintah Allah, dan Allah akan mengabulkannya. Perintah tersebut bersifat mutlak dan umum, maka do’a awal tahun dan akhir tahun sudah termasuk ke dalam perintah mutlak dan umum. Adapun secara eksplisit dalil langsung memang tidak ada, akan tetapi ada bisa diqiyaskan dengan hadist do’a awal bulan. Berikut ini hadist-hadits tentang awal bulan;

 

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ: " اَللهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللهُ " رواه الدارمي والترمذي وقال: حديث حسن

 

Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal (bulan pada tanggal 1, 2 dan 3), maka beliau berdoa: “Ya Allah, perlihatlah bulan ini kepada kami dengan kebahagiaan, keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. al-Darimi [1730] dan al-Tirmidzi [3451]. Al-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan”.).

 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : " اَللهُ أَكْبَرْ ، اَللّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِاْلأَمْنِ وَاْلإِيْمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَاْلإِسْلاَمِ ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ ". رواه الدارمي

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Allah Maha Besar. Ya Allah, perlihatkanlah bulan ini kepada kami dengan keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan pertolongan pada apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. al-Darimi [1729]).

 

عَنْ قَتَادَةَ ، أَنَّهُ بَلَغَهُ ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ : " هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، هِلاَلُ خَيْرٍ وَرُشْدٍ ، آَمَنْتُ بِاللهِ الَّذِيْ خَلَقَكَ " ، ثلاث مرات ، ثم يقول : " اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ ذَهَبَ بِشَهْرِ كَذَا وَجَاءَ بِشَهْرِ كَذَا ". رواه ابو داود

 

Dari Qatadah, bahwa telah sampai kepadanya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila melihat hilal, maka berdoa: “Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Semoga bulan ini membawa kebaikan dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah yang telah menciptakanmu.” Sebanyak tiga kali, kemudian berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah membawa pergi bulan ini, dan datang dengan bulan ini.” (HR. Abu Dawud [5092]).

 

Hadits-hadits di atas menunjukkan anjuran membaca doa pada awal bulan, setelah perginya bulan sebelumnya. Doa akhir tahun dan awal tahun, dianjurkan juga, dengan diqiyaskan pada doa awal bulan di atas. Di sisi lain, dalam kitab-kitab hadits juga disebutkan doa-doa yang dianjurkan pada awal terbitnya Matahari dan setelah terbenamnya Matahari, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab tentang doa dan dzikir, seperti kitab al-Adzkar karya al-Imam an-Nawawi dan semacamnya.

 

  1. Dalil 10 Hari Puasa

Nabi Muhammad saw. Beliau bersabda:  

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعدَ الفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ. (رواه مسلم

 Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim)

 

Imam Nawawi mengatakan hadist di atas sudah secara sharih/jelas, bahwa puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram. Semakin banyak kita berpuasa, semakin baik mau satu hari, dua hari, empat hari, 10 hari bahkan satu bulan jika tidak memberatkan. Di luar itu hari-hari di bulan muharram yang paling utama dipuasai menurut para ulama adalah 10 hari pertama di bulan Muharram, termasuk 9 (Tasu’a). 10 (‘As Syura), dan 11 Muharram

Comments