KEMERDEKAAN DALAM ISLAM

Bangsa Indonesia memprolamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, berarti sudah 75 tahun yang lalu. Kemerdekaan ini diperoleh bukan hanya sebagai hasil perjuangan saja tetapi merupakan rahmat Allah Swt. yang diberikan kepada bangsa ini. Betapa tidak, perjuangan melawan penjajah dengan persenjataan bambu runcing dapat mengalahkan penjajah dengan persenjataan yang serba lengkap. Sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar ’45, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.

Karena itu rahmat Allah yang sangat besar merupakan sebuah nikmat yang harus disyukuri. Bersyukur diberikan nikmat kemerdekaan yang terbebas dari belenggu penjajah. Makna kemerdekaan memiliki arti kebebasan. Bebas bukan berarti semaunya melakukan sesuatu. Seorang yang merdeka dikatakan lawan seorang budak, karena ia bebas dari perbudakan. Kemerdekaan segala sesuatu berarti pilihan yang terbaik, seperti halnya kita katakan, “Tanah dan pasir itu merdeka”, berarti pasir dan tanah yang cocok, subur, baik untuk ditanami pohon-pohonan. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa kemerdekaan itu menunjukkan kebebasan sesuatu dari hal-hal yang dapat mengotori kesucian dan kebaikannya. Itulah fitrah Allah yang diberikan kepada rakyat dan bangsa Indonesia, sebagaimana firmannya:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Arruum: 30)

Fitrah Allah itu maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama, yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah karena pengaruh lingkungan. Kemerdekaan ini harus disikapi sebagai karunia yang harus dipelihara dan dijaga serta diisi dengan nilai kebaikan untuk merubah bangsa ini menjadi bangsa yang aman, tentram, makmur, subur di bawah bimbingan dan ridha Allah Swt. Pada ayat lain Allah berfirman:

قَالَ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ 

Artinya: Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku Termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". (QS Al Anbiya: 56)

Kemerdekaan menurut arti sosial budayanya berarti orang yang berpendidikan bersih, berjiwa suci, berpegang teguh kepada sifat-sifat terpuji, lari dari sifat yang merendahkan martabatnya, melepaskan diri dari tali kekang perbudakan, dan menjalankan segala apa-apa yang menjadi kewajibannya dengan penuh tulus, ikhlas, semata-mata mengharap ridha Allah Swt. Allah Swt. berfirman pada QS Al Bayyinah: 5 sebagai berikut;

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)

Perjuangan harus dengan pengorbanan. Perjuangan melawan penjajah telah banyak menelan korban baik harta maupun jiwa. Para pahlawan yang gugur di medan perang, mereka berjuang tanpa pamrih, tidak meminta imbalan, hanya Allah lah yang akan memberikan ganjaran di akhirat kelak.

يَٰقَوۡمِ لَآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱلَّذِي فَطَرَنِيٓۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 

Artinya: Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan (nya)?" (QS. Hud: 51)

Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk diperhambakan kepada orang lain, dijadikan bola yang ditendang ke sana ke mari dengan sesuka hati untuk memenuhi kehendak hawa nafsunya. Tetapi ia diciptakan agar beramal baik secara individual maupun secara kolektif. Karunia Allah berupa kemerdekaan yang begitu tinggi dan besar ini tidak akan dicabut olehNya dari manusia, kecuali hal itu disebabkan oleh kezaliman yang diperbuat oleh segelintir orang dari mereka sendiri. Karena itu kita harus merdeka, merdeka dari perbudakan sesama manusia ke penghambaan kepada Allah semata, membawa diri dari kegelapan kepada cahaya.

Umar bin Khattab pernah menegur Amr bin Ash (salah satu gubernurnya di Mesir) setelah beliau mendengar bahwa anak Amr bin Ash memukul salah seorang bangsa Qibti (penduduk asli Mesir) dan ia tidak mengambil tindakan apa-apa terhadap anaknya, dengan sabdanya, “Wahai Amr bin Ash mulai kapan kau memperhambakan manusia? Bukankah mereka dilahirkan dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka?”

Seorang merdeka yang sebenarnya ialah orang yang jiwanya terdidik, memiliki kemauan keras, ilmu pengetahuan luas dan tampil membebaskan dirinya dari belenggu perbudakan dan pemerkosaan hak-hak asasinya yang dijalankan dengan paksa. Seseorang yang belum memiliki sifat ini berarti antara dia dan kemerdekaan itu terhalang oleh tepi curam yang amat dalam lagi menakutkan. Termasuk juga orang yang menjadikan kehinaan sebagai lambang dan sasaran pedang untuk mengoyak-ngoyak baju kehormatan, merobek-robek perikemanusiaan dan orang yang usahanya dapat memberikan kemudaratan terhadap dirinya dan orang lain seperti merusak tatanan kehidupan masyarakat, melakukan intimidasi, provokasi, mengadu domba dan semua akhlak keji lainnya. Banyak orang mengaku merdeka tetapi masih tetap saja mengenakan baju kehambaannya, berprilaku buruk, mengumbar hawa nafsu amarah yang selalu mendorongnya untuk melakukan kemaksiatan, memfitnah sesamanya dan berusaha mencelakakannya.

Bila ada orang yang mengajaknya kepada hal-hal yang dapat menghidupkan, meninggikan martabat bangsa dan menjadikannya terhormat, ia pura-pura tuli, membantah dengan perdebatan yang akhirnya mereka pun jatuh pula. Sampai di situ ia masih mengaku merdeka tak sadar bahwa perikemnusiaan dan kemerdekaan merupakan dua unsur kemakmuran dan dasar sosial. Suatu bangsa yang ingin mencapai puncak keemasan yang gilang gemilang, dituntut untuk mendidik putra putrinya dengan didikan yang islami.

Sebagai manusia yang merdeka hendaknya manusia mau dan mampu memilih sikap dan prilaku berdasarkan pertimbangan rasionya. Sebagaimana Imam Ali mengibaratkan, “Budak beramal karena takut hukuman, pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, namun orang merdeka beramal karena keimanannya mengharapkan ridha Allah Swt”.

Manusia sesungguhnya sama sekali tidak mempunyai kemerdekaan, namun ia mempunyai amanat sebagai anugerah untuk menyaksikan dan membumikan tanda-tanda kekuasaan Allah dengan tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga kemerdekaannya masih berada dalam lingkaran maujud dari kehendak dan Kekuasaan Tuhan yang Maha Meliputi.

Dalam konteks kemerdekaan sebagai suatu kaum atau bangsa-bangsa, maka semua manusia harus berani memerdekakan diri dari belenggu hawa nafsunya dan mengendalikannya dalam koridor akhlak dan perilakunya sebagai manusia yang beriman dan beramal saleh dan mempunyai keberanian untuk menegakkan serta menyampaikannya kepada manusia lainnya sebagi bagian dari Rahmat Tuhan.

Nabi Muhammad Saw. sebagai figur manusia sempurna adalah pembebas semua manusia dari belengggu hawa nafsunya yang tercela, baik hawa nafsu individual maupun hawa nafsu pada sebuah komunitas masyarakat yang menyesatkan.

Manusia yang berada dalam suatu wilayah dengan kedaulatan yang diakui sesuai dengan hukum-hukum positif dalam hubungannya antara makhluk dengan makhluk lainnya, dengan alam dan dengan Tuhannya mempunyai kewajiban untuk mempertahankannnya. Ini sebagai bukti dari rasa cintanya terhadap tanah air dan sebagai bagian keimanan seseorang. Rasulullah Saw. bersabda:

فَالَ النَّبِيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَحُبُّالْوَطَنِمِنَاْلاِيْمَانِقَالَعُمَرُرَضِىَاللهُعَنْهُلَوْلاَحُبُّالْوَطَنِلَخَرَبَبَلَدُالسُّوْءِفَبَحَبَاْلاَوْطَانُعَمَرَتِالْبُلْدَانُ

Artinya: Nabi Saw. bersabda: Cinta kepada tanah air sebagian dari iman. Umar berkata: Jika tidak ada rasa cinta kepada tanah air maka pasti hancurlah Negara itu, maka perkuatlah tanah air kita dan tegakkanlah tanah air ini dengan menumbuhkan rasa cinta tinggi.

Seseorang yang memakrifati diri untuk bebas dari hawa nafsu dan tertunduk sebagai hamba dihadapan Tuhannya adalah manusia yang bertanggung jawab dengan kesadaran suci untuk menyatakan hasrat dan niat Pencipta untuk menyatakan DiriNya. Karena itu, ia mempunyai kewajiban untuk menjadi bagian Rahmat Tuhan yang dinyatakan.

Manusia yang beriman mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kebenaran kepada makhluk lainnya sebagai amanat kekhalifahan yang dianugerahkan dari Penciptanya. Karena itu, setiap manusia adalah pembawa amanat sebagai khalifah bagi dirinya, dan harus berani mempertahankan prinsip dan tanggung jawabnya secara individual sebagai wakil Tuhan yang hak dan kewajibannya harus dipertahankan dan dipenuhi. Menolak kenyataan demikian sama saja dengan menolak ketentuan yang telah dilimpahkanNya sebagai amanat.

Dalam kebebasannya dihadapan Tuhan, seorang hamba yang beriman terikat pada prasangkanya terhadap Tuhan itu sendiri. Karena itu, segala makhluk ciptaan merdeka dalam koridor perintah dan wewenang Tuhan sebagai al-Haqq, dan menyatakan perintah dan wewenang itu sesuai dengan potensi dan koridor keyakinannya masing-masing. (lakuum dinukuuum waliyadiin)

Kemerdekaan dalam lingkup personal adalah suatu sikap dan karakter Insan Kamil yang mempunyai kepedulian kepada manusia lainnya, mempunyai kemandirian terbatas yang disadarinya, mempunyai prakarsa, dan upaya untuk menjadi pembebas bagi manusia lainnya sesuai dengan potensi yang dapat dinyatakannya.

Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah adalah adab bagi para wali Allah sepanjang zaman sebagai manusia yang merdeka, yang tidak pernah sedih, yang mempunyai kabar gembira dengan kewajiban semampunya untuk disampaikan kepada manusia lainnya. Kalimat tauhid itu juga merupakan pembebasan manusia dari perbudakan selain Allah dengan memakrifati kehidupan sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad Saw.

Manusia yang merdeka adalah manusia mampu memakrifati kehidupan di atas Shirathaal Mustaqiim sebagai jalan luas yang memungkinkan terciptanya harmoni ideal antara niat, pikiran dan tindakan sebagai keseimbangan ideal tanpa cacat. Maka, dia yang merdeka secara eksistensial maupun esensial adalah dia yang menjadi Kekasih, Karib, Penulis, dan atribut-atribut keruhanian lainnya yang dinyatakan untuk merepresentasikan Asma, Sifat dan Perbuatan Ilahi.

Kemerdekaan sesungguhnya adalah kemerdekaan lahir dan batin seorang hamba yang dengan tenang dan tulus dinyatakan sebagai peng-Esa-an Ilahi, sebagaimana firman Allah:

فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ

Artinya: Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung". (QS. Attaubah: 129)

Dialah HambaNya, yang menampilkan WajahNya yang ada dimana-mana. Dan Dia adalah Dia yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin, Yang Mengetahui segala sesuatu dan Dia berbeda dengan makhlukNya; dan Dia adalah Dia. Pada ayat lain firmanNya adalah:

هُوَ ٱلۡأَوَّلُ وَٱلۡأٓخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلۡبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ 

Artinya: Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin; dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Hadid : 3)

Semoga kita tetap merdeka jiwa dan raga kita, lahir dan batin. Amin. Merdeka!!!

#KH Hb. Syarief Muhammad Al’aydarus 

Comments